Pemogokan Sektor Publik Prancis Ganggu Aktivitas Rumah Sakit

Arpan Rahman    •    Rabu, 11 Oct 2017 19:04 WIB
Pemogokan Sektor Publik Prancis Ganggu Aktivitas Rumah Sakit
Protes menentang kebijakan Presiden Prancis Emmanuel Macron (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Paris: Hampir seperempat juta pegawai negeri turun ke jalan di seantero Prancis untuk memprotes kebijakan ekonomi Presiden Emmanuel Macron.
 
Pemogokan nasional ini mengganggu aktivitas sekolah, rumah sakit, dan lalu lintas udara di seluruh Prancis, pada Selasa 10 Oktober 2017. 
 
Mereka mengekspresikan amarah atas pembekuan upah, menyetop 120.000 pekerjaan dalam pelayanan publik selama lima tahun ke depan dan serangkaian pemotongan belanja. Serta reformasi tenaga kerja yang menurut Macron akan mendorong ekonomi.
 
Di Paris, polisi mengatakan terhitung 26.000 demonstran. Sementara CGT, serikat pekerja utama, membilang dua kali jumlah itu di ibu kota saja dan ratusan ribu di seluruh negeri.
 
Kementerian Dalam Negeri Prancis menyebutkan bahwa 209.000 orang ikut ambil bagian dalam demo di seluruh negeri. Ini kali pertama dalam sepuluh tahun semua serikat pekerja layanan masyarakat menyerukan tindakan mogok.
 
Philippe Martinez, pemimpin CGT, mengatakan kepada wartawan dalam demonstrasi di Paris bahwa partisipasi dalam pemogokan ini "sangat penting". Ia memuji persatuan serikat pekerja.
 
Di antara para pemrotes yang berbaris di Paris, Beatrice Vieval, perawat berusia 49 tahun. Ia katakan bahwa rumah sakit umum Paris telah kena tiga kasus bunuh diri terakhir di antara stafnya. Seraya khawatir rencana Macron "akan membuat situasi semakin buruk".
 
Di samping para guru, pekerja rumah sakit menjadi pemrotes. Vieval, yang bekerja di Rumah Sakit Saint-Louis di Paris, berkata kepada AFP bahwa dia sudah merasa terjepit oleh pemotongan yang meningkat - "upah dibekukan, kondisi rumah sakit memburuk, staf habis oleh reorganisasi layanan".
 
Amado Lebaube, mahasiswa filsafat berusia 20 tahun di Universitas Sorbonne, mengatakan bahwa kondisi kerja yang terdegradasi telah melukai konsumen layanan publik. Itu dapat mengancam kesempatannya untuk tetap bersekolah.
 
Maskapai Air France menjabarkan sekitar 25 persen penerbangan domestik dibatalkan karena mogoknya beberapa pengendali lalu lintas. Perusahaan ini mempertahankan penerbangan jarak jauh ke dan dari bandara Paris.
 
Kementerian pendidikan mengatakan dalam sebuah pernyataan sekitar 17 persen guru di seluruh negeri ikut mogok Selasa. Sejumlah kantin sekolah dan tempat penitipan anak ditutup. Beberapa sekolah menengah di Paris tutup sebab para siswa menghalangi pintu masuk sebagai solidaritas dengan tindakan serikat pekerja.
 
"Mereka melepaskan semua perlindungan sosial yang seharusnya melindungi yang terlemah dan para pekerja," kata Sandrine Amoud, guru yang mogok di Paris, seperti dikutip Herald Scotland, Rabu 11 Oktober 2017.
 
Jean-Claude Mailly, sekretaris jenderal serikat FO, meminta Macron menghentikan kebijakan "penghematan" terhadap pegawai negeri selama berdemo di Lyon.
 
Sementara aksi massa berlangsung damai di seluruh negeri, sekelompok kecil pemrotes bertikai lawan polisi di akhir sebuah unjuk rasa di Place de la Nation, Paris timur.
 
Aksi mogok massal terjadi menyusul beberapa demonstrasi jalanan lainnya dalam beberapa pekan terakhir terhadap perubahan yang diajukan Macron atas undang-undang perburuhan.
 
Serikat pekerja khawatir kebijakan ekonomi Macron akan melemahkan perlindungan pekerja keras di Prancis. Serikat pekerja CGT haluan garis keras-kiri meminta demonstrasi dan pemogokan kembali pada 19 Oktober nanti.

(FJR)