Polisi Prancis Bentrok dengan Demonstran Anti-Bandara

Muhammad Al Hasan    •    Selasa, 10 Apr 2018 02:06 WIB
politik prancis
Polisi Prancis Bentrok dengan Demonstran Anti-Bandara
Sekitar 2.500 polisi Prancis dikerahkan untuk membongkar kamp demonstran yang protes pendirian bandara di Notre-Dame-des-Landes, dekat kota barat Nantes. (Foto: AFP/Loic Venance).

Nantes: Aktivis antikapitalis Prancis terlibat bentrok dengan polisi anti huru hara pada Senin, 9 April 2018 di Notre-Dame-des-Landes, dekat kota barat Nantes. Bentrokan terjadi selama operasi keamanan pembersihan kamp protes di lokasi proyek bekas bandara yang terbengkalai.

Sekitar 2.500 polisi dikerahkan untuk membongkar kamp yang berusia satu dekade itu dan mengusir demonstran terakhir yang menolak meninggalkan tempat tersebut. Padahal pemerintah telah setuju untuk meninggalkan bandara yang diusulkan tersebut.

Dalam bentrokan itu, para aktivis berusaha melawan menggunakan traktor dan membakar barikade ban, palet kayu, bal jerami, dan tiang listrik. Mereka mencoba menahan polisi agar tidak masuk ke kamp.

Untuk membubarkan puluhan pengunjuk rasa, polisi melawan balik dengan menembakkan gas air mata. Dalam bentrokan tersebut salah satu petugas polisi terluka di mata akibat terkena bom molotov dari demonstran.

Kasus ini bermula pada bulan Januari, ketika pemerintah Prancis membatalkan rencana untuk bandara di Notre-Dames-des-Landes. Padahal lokasi tersebut telah ditempati komunitas lokal selama hampir setengah abad. Pemerintah mengatakan kepada para demonstran untuk segera membersihkan lahan pertanian pada musim semi.

Pemerintah mengatakan tujuan utama operasi itu adalah merebut kembali kendali atas jalan utama yang telah diblokir selama lima tahun. Nantinya pemerintah berencana membangun fasilitas jalan dengan ongkos USD890 juta. 

Tetapi beberapa kelompok beraneka ragam pejuang lingkungan, antikapitalis, dan petani yang telah tinggal di lahan seluas 1.600 ha itu menuntut hak untuk tetap tinggal. Mereka juga menolak dalih pemerintah soal pembangunan fasilitas jalan yang tidak begitu penting mengingat di lokasi Bandara Nantes merupakan jalur lalu lintas yang tidak begitu ramai.

Dalam sebuah pernyataan, para pengunjuk rasa menyatakan kemarahan atas penghancuran gubuk dan tempat tinggal mereka dengan sumpah 'Kami Tidak Akan Pergi'.

Meski demikian, Menteri Dalam Negeri Gerard Collomb mengatakan polisi akan tetap di lokasi selama diperlukan untuk mencegah mereka yang dipaksa keluar. Pemerintah Prancis kini lebih serius dalam melakukan penggusuran itu,  setelah upaya pertama untuk menghapus situs pada 2012 gagal.


(HUS)