Negara-Negara Eropa Akui 'Presiden Interim' Venezuela

Willy Haryono    •    Senin, 04 Feb 2019 19:14 WIB
amerika serikatvenezuelauni eropa
Negara-Negara Eropa Akui 'Presiden Interim' Venezuela
PM Spanyol Pedro Sanchez di Madrid, 4 Februari 2019. (Foto: AFP/PIERRE-PHILIPPE MARCOU)

Madrid: Spanyol, Inggris, Prancis dan negara-negara anggota Uni Eropa lainnya resmi mengakui pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido, sebagai presiden interim pengganti Nicolas Maduro yang dinilai berkuasa secara ilegal.

Pengakuan dilakukan usai ultimatum yang dilayangkan sejumlah negara tersebut diabaikan Maduro. Ultimatum itu menyerukan adanya pemilihan umum terbaru di Venezuela, dan jika tidak, maka Guaido akan diakui sebagai presiden interim.

Selain di benua Eropa, beberapa negara lain seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia dan sejumlah lainnya di Amerika Latin telah mengakui Guaido. Saat ini, Guaido berusaha mendepak Maduro agar dirinya dapat segera menjalankan pemerintahan transisi dan menggelar pemilu.

Setelah mengumumkan pengakuan resmi terhadap Guaido, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mendesak pria 35 tahun itu untuk "menyerukan pemilu sesegera mungkin, dan proses tersebut harus digelar secara bebas dan demokratik."

Sanchez menambahkan dirinya ingin memimpin rencana penyaluran bantuan kemanusiaan ke Venezuela di panggung Uni Eropa dan juga Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt juga mengakui status Guaido, dan berkata di Twitter semoga pengakuan ini "dapat membawa kita lebih dekat ke akhir dari krisis kemanusiaan."

"Warga Venezuela memiliki hak untuk mengekspresikan diri mereka secara demokratis," tulis Presiden Prancis Emmanuel Macron di Twitter.

"Kami mengakui Juan Guaido sebagai presiden interim Venezuela, yang bertugas memulai transisi politik dan memimpin negaranya menuju pemilu bebas, transparan serta kredibel," ungkap juru bicara Kanselir Jerman Angela Merkel, Martina Fietz.

Sebelumnya, Maduro menegaskan dirinya tidak akan bisa ditekan dengan ultimatum. "Kami tidak menerima ultimatum dari siapapun. Ini sama saja seperti jika saya berkata kepada Uni Eropa, 'saya berikan Anda tujuh hari untuk mengakui Republik Catalonia, dan jika tidak, Venezuela akan mengambil langkah tegas," kata Maduro.
 
"Tidak. Politik internasional tidak dapat berbasis ultimatum. Hal semacam itu hanya ada di era kekaisaran atau kolonial," ungkapnya.

Baca: Maduro Singgung Kemungkinan Perang Sipil di Venezuela


(WIL)