Jurnalis Malta Tewas Dibom Diduga karena Ungkap Kasus Korupsi

Whisnu Mardiansyah    •    Rabu, 18 Oct 2017 03:00 WIB
bom
Jurnalis Malta Tewas Dibom Diduga karena Ungkap Kasus Korupsi
Ilustrasi teror. (MTVN/Mohammad Rizal)

Metrotvnews.com, Malta: Jurnalis investigasi asal Malta, Daphne Caruana Galizia tewas usai bahan peladak meledakan mobilnya Senin sore. Anak Daphne Caruana Galizia, Matthew Caruana Galizia menduga ibunya tewas karena mengungkap kasus korupsi di Malta.

Anak almarhum menjelaskan jika mendinag ibunya banyak mengungkap kasus korupsi politik yang memicu demonstrasi besar di Malta. Matthew mengatakan sesaat sebelum insiden tersebut ibunya menulis tentang korupsi dan perpecahan politik di Malta.

"Ibuku tewas karena dia menegakan hukum dia juga satu-satunya yang ditargetkan," tulis Matthew di akun facebook pribadinya seperti dilansir darei Reuters, Selasa 17 oktober 2017.

Saat ini pihak berwenang Malta menunggu kedatangan ahli forensik Belanda dan agen FBI Amerika Serikat untuk membantu penyelidikan kematian Daphne. Di saat yang sama, ratusan orang berdemonstrasi didepan Pengadilan menuntut keadilan atas tewasnya Daphne.

"Negara tidak membela Daphne," teriak Andrew Borg Cardona salah satu pendemo.

Baru-baru ini, Daphne sedang menindaklanjuti informasi dari dokumen Panama Papers yang dibocorkan salah satu firma hukum tahun 2015. Ia menyelidiki dugaan pejabat Malta dan perusahaan demi menghindari pajak.

Setengah jam sebelum insiden ledakan itu, Daphne menulis di blog pribadinya yang berjudul 'Ada penjahat dimana-mana anda bisa lihat sekarang situasinya sangat mengerikan'.

Komisi Eropa mengatakan insiden ini sangat mengerikan dan mereka menuntut keadilan atas insiden ini. Juru Bicara Komisi Eropa Margaritis Schinas belum memastikan apakah Uni Eropa akan membuka pemeriksaan kepada Malta atas prosedur penegakan hukum. "ini adalah tindakan keterlaluan yang terjadi dan yang penting sekarang adalah keadilan ditegakan," tegas Schinas.

Sebelumnya, insiden ini terjadi di Desa Bidjina sebelah utara negara di Kepulauan Mediterania itu. Pihak berwenang mengatakan ini insiden pertama pembunuhan terhadap seorang jurnalis disana. 

"Saya melihat sebuah ledakan kecil berasal dari mobil dan saya panik. Beberapa detik kemudian, sekitar tiga sampai empat detik, ada ledakan lain yang lebih besar, " kata warga Frans Sant, yang sedang melaju ke arah lain.

"Mobil terus menuruni bukit, meluncur dengan kecepatan tinggi, penuh dengan api. Mobil itu melewati saya sekitar 10 kaki. Saya mencoba membantu tapi api terlalu besar dan mobil itu berhenti di lapangan, " tambahnya kepada Reuters. 


(LDS)