Donald Trump Desak Spanyol Bangun Tembok Melintasi Gurun Sahara

Arpan Rahman    •    Jumat, 21 Sep 2018 10:55 WIB
imigran gelapspanyoldonald trump
Donald Trump Desak Spanyol Bangun Tembok Melintasi Gurun Sahara
Imigran gelap nekat melintasi Mediterania untuk menggapai Eropa. (Foto: AFP).

Madrid: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyarankan Pemerintah Spanyol mengatasi krisis imigran Mediterania dengan meniru salah satu kebijakannya yang paling terkenal. Trump menyarankan Spanyol membangun tembok di seberang Gurun Sahara.
 
Menurut Menteri Luar Negeri Spanyol Josep Borrell, Presiden AS menepis skeptisisme para diplomat Spanyol -- yang menunjukkan bahwa Sahara membentang sejauh 4.827 kilometer (km).
 
"Perbatasan Sahara tidak lebih besar dari perbatasan kami dengan Meksiko," kata Trump yang ditirukan Menlu Spanyol, Kamis 20 September 2018.
 
Trump merayu pemilih pada pemilu 2016 dengan janjinya membangun "tembok besar dan indah" di perbatasan AS-Meksiko, yang panjangnya sekitar 3.218 km.
 
Namun demikian, rencana serupa di Sahara akan dipersulit kenyataan bahwa Spanyol hanya memiliki dua bagian kecil di Afrika Utara -- Ceuta dan Melilla -- dan tembok semacam itu harus dibangun di wilayah asing.
 
Komentar Borrell muncul pada acara makan siang di Madrid pekan ini dan banyak dilaporkan di media Spanyol. "Kami dapat mengonfirmasi bahwa itulah yang dikatakan menteri, tetapi kami tidak akan membuat komentar lebih lanjut tentang komentar menteri tersebut," kata juru bicara Kemenlu Spanyol, seperti dikutip Guardian, Jumat 21 September 2018.
 
Trump diduga sudah memberi rekomendasi soal tembok perbatasan itu ketika Borrell menemani Raja Felipe dan Ratu Letizia ke Gedung Putih pada Juni lalu.
 
Spanyol menghadapi krisis migrasi, dengan lebih dari 33.600 imigran dan pengungsi yang tiba lewat laut sejauh tahun ini, dan 1.723 korban tewas dalam upaya itu.
 
Peningkatan kedatangan, sebesar tiga kali lipat dari total untuk periode yang sama tahun lalu, berarti Spanyol melampaui Italia dan Yunani sebagai tujuan utama bagi para imigran yang melintasi Mediterania.
 
Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, secara luas dipuji karena mengumumkan bahwa Madrid akan membawa masuk 630 pengungsi ke kapal penyelamat Aquarius. Para pengungsi itu sebelumnya ditolak Italia dan oleh Malta.
 
Namun tingginya jumlah kedatangan di pantai selatan Spanyol telah menekan fasilitas penampungan dan infrastruktur. Masalah ini juga sudah digunakan sebagai senjata politik oleh partai sayap kanan yang menuduh pemerintah Sanchez menerapkan standar ganda dan terlalu lunak pada imigrasi.
 
Borrell, mantan presiden parlemen Eropa, sebelumnya menuduh Eropa memakai "politik burung unta" dalam persoalan migrasi dan menyerukan perspektif menyikapi masalah ini. "Kami berbicara tentang 20.000 imigran sejauh ini tahun ini untuk negara dengan lebih dari 40 juta penduduk," katanya pada Juli. "Itu bukan migrasi massal," tegasnya.
 
Dia juga berkata, masalah Spanyol diremehkan oleh beberapa negara Timur Tengah yang menampung pengungsi dari perang di Suriah. Seraya menambahkan: "Kita menyepelekan kata 'massa'."


(FJR)