Calais Diperketat setelah Perkelahian Migran

Arpan Rahman    •    Senin, 05 Feb 2018 07:15 WIB
imigran gelappolitik prancis
Calais Diperketat setelah Perkelahian Migran
Kobaran api terjadi menjelang penghancuran kamp Jungle di Calais, Prancis, 23 Oktober 2016. (Foto: AFP/DENIS CHARLET)

Calais: Ketegangan telah diturunkan dan 100 petugas tambahan dikerahkan ke kota pelabuhan Prancis, Calais, setelah terjadi perkelahian antar Migran pada Kamis 1 Februari 2018. Saat itu, empat migran ditembak petugas dan 18 lainnya terluka.

Keamanan ditingkatkan dengan tambahan rute patroli di beberapa titik di Calais, di mana diperkirakan masih ada sekitar 800 migran. Saat ini sudah hampir 18 bulan berlalu usai pihak berwenang membongkar kamp ternama "Jungle" yang dihuni ribuan migran.

Kekerasan poada Kamis kemarin menyoroti ketegangan yang semakin meningkat di Calais. Di sana, para migran berkumpul setelah tercapainya kesepakatan bulan lalu antara Inggris dan Prancis.

Baca: Lima Migran Ditembak dalam Perkelahian di Calais

"Saya tidak berpikir bahwa para pengungsi benar-benar memahami politik, tapi mereka mendengar desas-desus bahwa beberapa dari mereka mungkin akan bisa pergi ke Inggris," kata Clare Moseley dari kelompok bantuan amal Care4Calais, seperti dikutip WSLS.com, Minggu 4 Februari 2018.

Pihak berwenang Prancis berjanji tidak mengizinkan pembangunan kamp-kamp bergaya "Jungle" lainnya. 

Sejak krisis memuncak pada 2015, para pemimpin Eropa mencoba untuk membatasi jumlah migran yang secara ilegal masuk melalui Benua Biru. 

Meskipun jumlahnya turun, 984.000 orang hidup tanpa dokumen yang sepadan di Uni Eropa pada 2016, dibandingkan dengan 2,2 juta pada 2015 menurut laporan Eurostat.


(WIL)