Pemimpin Oposisi Rusia Dipenjara, 1.500 Pendukungnya Ikut Ditahan

Arpan Rahman    •    Selasa, 13 Jun 2017 14:25 WIB
politik rusia
Pemimpin Oposisi Rusia Dipenjara, 1.500 Pendukungnya Ikut Ditahan
Pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny dipenjara selama 30 hari (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Moskow: Demonstrasi di seantero Rusia menentang korupsi pemerintah, pada Senin 12 Juni, berakibat buruk. Usai demo, pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny dipenjara selama 30 hari, dan lebih dari 1.500 pendukungnya ditangkap.
 
Protes itu menjadi aksi massa kedua sejak Maret yang diserukan oleh Navalny. Ia telah mengumumkan keinginannya mencalonkan diri sebagai presiden, tahun depan. Gairahnya mampu menarik generasi muda ke jalanan melalui kampanye daring tanpa henti.
 
"Sebuah pengadilan di Moskow, yang digelar Senin malam, memutuskan Navalny 41 tahun bersalah karena melakukan demonstrasi ilegal dan memvonisnya satu bulan dalam tahanan administratif," kata juru bicara Kira Yarmysh di Twitter, seperti dikutip The Telegraph dari AFP, Selasa 13 Juni 2017.
 
Kelompok HAM OVD-Info mengatakan kepada AFP bahwa lebih dari 1.500 pendukungnya telah ditangkap dalam demonstrasi di seluruh negeri, termasuk 823 pengunjuk rasa di Moskow.
 
Saat polisi antihuru-hara membawa para pengunjuk rasa ke van polisi, pedemo lain berteriak "Memalukan!", "Putin itu pencuri!" dan "Kebebasan untuk Navalny!"
 
Polisi menahan sekitar 600 pemrotes di Saint Petersburg, kata LSM tersebut, yang melacak penangkapan dan menyebutkan lebih dari 100 penahanan juga dilakukan di kota-kota seperti Vladivostock, Kaliningrad, Norilsk, dan Sochi.
 
Ribuan orang Rusia, banyak yang muda belia, meneriakkan "Rusia tanpa Putin!" di jalan-jalan raya puluhan kota selama demonstrasi Senin.
 
Amerika Serikat (AS) mengecam penangkapan tersebut, padahal pemerintahan Donald Trump jarang mengkritik pelanggaran hak asasi manusia dan Kremlin. Juru bicara Gedung Putih Sean Spicer menyebut "pemerintah Rusia agar segera melepaskan semua pedemo damai."
 
Navalny sendiri dijemput oleh polisi saat ia menuju ke sebuah acara di Moskow.
 
Presiden Parlemen Eropa Antonio Tajani menyuarakan keprihatinannya setelah penangkapan Navalny. Seorang jubir Uni Eropa menyesalkan "penahanan ratusan pemrotes damai dan kekerasan yang digunakan oleh otoritas Rusia terhadap mereka".
 
Kelompok HAM Amnesty International mengutuk "situasi yang mengkhawatirkan" berupa penahanan dan kekerasan terhadap demonstran, yang menyerukan mereka agar segera dibebaskan.
 
Demo dipicu YouTube
 
Aksi demo baru-baru ini diluapkan oleh sebuah film yang dirilis Navalny pada awal Maret. Di dalamnya berisi tuduhan bahwa Perdana Menteri Dmitry Medvedev mengendalikan kekayaan pribadi yang luas melalui jaringan yayasan gelap. Video telah dilihat lebih dari 22 juta kali.
 
"Putin berkuasa selama 17 tahun dan tidak berencana untuk mundur, dia telah merebut semua kekuatan," kata demonstran Alexander Tyurin, 41.
 
Pemrotes lain, Yevgeny, 19, mengaku telah dikeluarkan dari universitas sesudah berpartisipasi dalam demonstrasi sebelumnya. "Pemerintah kita berteriak bahwa musuh ada di mana-mana dan menjadi tertutup dalam dirinya sendiri," katanya.
 
Navalny telah membawa generasi baru ke jalanan melalui tautannya ke YouTube. Timnya melakukan siaran dari sebuah studio yang didirikan di Moskow, meskipun listrik diputus secara berkala, memaksa presenter siaran dalam kegelapan total.
 
Polisi Moskow mengatakan bahwa Navalny akan dikenai sanksi administratif karena menolak penangkapan dan menjadi pelanggaran kedua terhadap aturan mengorganisasi demonstrasi.
 
Gelombang protes yang menyambut seruan Navalny bertepatan dengan hari libur nasional, Hari Rusia, ketika Putin menyerahkan penghargaan dan merayakan resepsi di Kremlin.



(FJR)