Lawatan Terakhir, Obama Pamit ke Kanselir Jerman

Arpan Rahman    •    Kamis, 17 Nov 2016 17:31 WIB
barack obama
Lawatan Terakhir, Obama Pamit ke Kanselir Jerman
Obama tiba di Jerman untuk kunjungan terakhir (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Berlin: Barack Obama mengadakan lawatan perpisahan, Kamis 17 November, mengunjungi Kanselir Jerman Angela Merkel. Amerika Serikat (AS) secara luas telah dianggap membawa standar baru demokrasi liberal sejak terpilihnya Donald Trump.
 
Di penghujung langkah Obama dari tur terakhirnya ke Eropa sebagai presiden, dia akan menggarisbawahi nilai-nilai bersama. 
 
"Sambil mencoba meredakan kekhawatiran tentang masa depan kemitraan transatlantik. Ia juga berterima kasih pada Merkel atas persahabatannya selama dua periode," menurut para pejabat Gedung Putih seperti dilansir AFP, Kamis (17/11/2016).
 
Sebagai pemimpin Barat yang terhimpit perubahan berpotensi radikal bila Trump pindah ke Ruang Oval pada Januari mendatang, Obama mengakhiri kunjungan ke Athena, Rabu 16 November. Ia memperingatkan, globalisasi memerlukan "koreksi terarah" demi menjaga suara para pemilihnya hanyut ke kutub ekstrem.
 
"Saat kita melihat masyarakat, elit global, perusahaan-perusahaan kaya yang tampaknya hidup dengan seperangkat peraturan yang berbeda, menghindari pajak, memanipulasi berbagai celah, hal itu menyisakan rasa yang mendalam akan ketidakadilan," katanya.


Obama tiba di Jerman (Foto: AFP).
 
 
Setelah kemenangan mengejutkan Trump, Merkel menyatakan keinginan mempertahankan hubungan dekat dengan Washington.
 
Namun ada suatu keterputusan tradisi yang luar biasa bagi Jerman, yang sejak lama melihat AS sebagai pelindung dan mitra terdekat. Merkel tegas mengatakan, kerja sama harus didasarkan pada prinsip-prinsip demokrasi bersama dan menjunjung tinggi martabat manusia.
 
Kalangan analis menyimpulkan, pertemuan Kamis bisa dilihat bagaikan semacam penyerahan tanggung jawab dari Obama ke Merkel, yang ia sebut "pasangan akrab internasional saya," untuk mengurus dunia bebas.
 
Bak robohnya Tembok Berlin
 
Obama menggelar apel terbesar dari kampanyenya pada 2008 di Berlin. Menyebut kelahiran kembali kota yang pernah terbelah dua itu sebagai simbol kemajuan, dia menyerukan harapan tentang sebuah dunia tanpa senjata nuklir kepada 200.000 pendukungnya yang bersorak-sorai di monumen Victory Column saat matahari terbenam.
 
Obama dan Merkel, yang mengambil alih kekuasaan pada 2005, lekas mengembangkan kemitraan yang kuat. Kendati hubungan keduanya sempat renggang lantaran muncul bocoran bahwa NSA (badan intelijen AS) memata-matai ponsel Merkel dan oposisi vokal Obama atas respons dorongan-penghematan Jerman terhadap krisis utang Eropa.
 
Warga Jerman menunggu di Victory Column selama berjam-jam pada suatu hari November kelabu sebelum kedatangan Obama. Mereka mengaku sedih melihat dia pergi dan merasa cemas dengan apa yang akan dibawa pemerintahan Trump.
 
"Harapan kami melambung tinggi setelah George W. Bush meletakkan jabatan," kata Thomas Schmidt, 54, seorang pegawai swasta, yang teringat "bahagia" ketika ia menyaksikan pidato Obama di Berlin lewat televisi.
 
"Suasana hati ini gembira, seperti saat Tembok Berlin roboh. Rasanya sekarang dengan Trump harus jauh lebih waspada. Tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukannya," tutur Schmidt.
 
Hannah Mueller, mahasiswi linguistik 26 tahun, mengatakan Obama telah gagal memenuhi harapan banyak orang Jerman atas ketidakmampuannya menutup pusat tahanan militer di Teluk Guantanamo atau mendahulukan perdamaian di Timur Tengah.
 
"Trump membuat kesan mengerikan di sini selama kampanye pemilu, tapi setidaknya dia belum mengecewakan kami," katanya.
 
Matthias Krah, 43, manajer proyek TI, menyadari prospek Trump di Gedung Putih "menakutkan" dan memperkirakan penataan kembali besar-besaran ikatan transatlantik.
 
"Artinya kita Eropa perlu melihat ke dalam. Mungkin kita bisa mulai berbuat tanpa AS," katanya.
 
Jajak pendapat menunjukkan sebagian besar warga Jerman tidak mendukung Trump untuk duduk di Gedung Putih.
 
Dua dari tiga orang mengatakan, mereka takut hubungan dengan Washington akan sengsara di bawah pemerintahan baru, menurut sebuah survei pekan lalu untuk lembaga penyiaran publik ZDF.
 
Hanya tiga persen yang berpikir hubungan akan meningkat, sementara 60 persen mengatakan bahwa sejumlah konflik internasional akan cenderung meningkat di bawah Presiden Trump.
 
Kekuatan Merkel sebagai pembela nilai Barat
 
Obama makan malam dengan Merkel di hotelnya, pada Rabu, dan akan mengadakan pembicaraan resmi, Kamis. Disusul pertemuan, Jumat 18 November, yang juga diikuti para pemimpin Inggris, Prancis, Italia, dan Spanyol.
 
Sementara di Athena, Obama mengeluarkan peringatan keras terhadap nasionalisme "yang kasar", menyebut aliansi NATO "benar-benar penting" untuk kepentingan AS. Ia menekankan dengan kuat, bersatunya Eropa baik bagi Amerika.
 
Komentarnya diarahkan pada kegelisahan di Negeri Paman Sam atas komentar kritis Trump tentang hubungan transatlantik.
 
Obama telah mengandalkan kekuatan Merkel di Eropa dalam beberapa bidang, termasuk membantu meredakan konflik Ukraina, mengambil ratusan ribu pengungsi Suriah, dan mempromosikan perdagangan bebas.
 
Saat Obama turun dari tampuknya, banyak pengamat mengatakan pentingnya Merkel sebagai pembela nilai-nilai Barat yang akan terus berkembang. Dengan asumsi dia -- seperti yang diharapkan -- terpilih lagi untuk keempat kalinya tahun depan.
 
"Banyak soal masa depan Eropa akan ditentukan dari apakah Jerman memiliki pemimpin yang kuat, yang ingin mendorong hal-hal itu ke depan," kata Daniela Schwarzer, direktur Dewan Hubungan Luar Negeri Jerman (DGAP).

(FJR)