PM Spanyol Inginkan Catalonia Kembali Demokratis dan Bebas

Arpan Rahman    •    Senin, 13 Nov 2017 16:35 WIB
referendum catalonia
PM Spanyol Inginkan Catalonia Kembali Demokratis dan Bebas
Warga Catalonia menuntut dibebaskannya para pejabat tinggi wilayahnya (Foto: AFP).

Barcelona: Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy mengatakan, pada Minggu 12 November, bahwa dia ingin kembali ke Catalonia yang "demokratis dan bebas". Bertepatan dengan itu, dia bermaksud mengumpulkan dukungan bagi Spanyol yang bersatu pada kunjungan pertamanya ke wilayah yang bergolak tersebut sejak mengumumkan kemerdekaan.

Sehari sebelumnya, ratusan ribu orang berbaris di Barcelona guna menuntut pembebasan jajaran pejabat separatis yang ditahan karena mendeklarasikan kemerdekaan. Rajoy meminta "mayoritas suara" bangsa Catalan agar mendukung persatuan.

"Kita harus memulihkan Catalonia yang masuk akal, praktis, giat, dan dinamis... yang telah berkontribusi sangat besar bagi kemajuan Spanyol dan Eropa," kata Rajoy kepada anggota Partai Populer di Barcelona.

"Kita ingin mendapatkan kembali Catalonia bagi semua orang, demokratis dan bebas. Kita bisa melakukannya jika mayoritas yang hanya diam mulai bersuara dan memilih," cetusnya, seperti dinukil AFP, Senin 13 November 2017.

Krisis Catalonia telah menyebabkan kekhawatiran di Uni Eropa. Sementara blok tersebut masih bermasalah dengan Brexit dan ketidakpastian mengenai nasib 7,5 juta orang di Benua Biru. 

Lebih dari 2.400 bisnis memindahkan markas hukum mereka dari Catalonia ke tempat lain. Rajoy pun meminta agar kalangan bisnis "tidak pergi".

Anggota parlemen separatis dipecat oleh Pemerintah Madrid setelah mengumumkan kemerdekaan wilayah mereka dari Spanyol, bulan lalu. Mereka bersikeras bahwa mereka diberi mandat buat memisahkan diri dengan sebuah referendum 1 Oktober yang dilarang.

Namun, kubu pro-persatuan mengatakan bahwa pemungutan suara itu sangat cacat dan sebagian besar diboikot oleh seteru kemerdekaan. Meski lebih dari 90 persen orang terbukti mendukung pemisahan diri.

Beberapa pejabat sudah ditahan karena peran mereka dalam mendorong kemerdekaan. Upaya itu dilarang di bawah konstitusi perang sipil Spanyol.

Wilayah tersebut -- yang menyumbang seperlima dari PDB Spanyol -- masih terbelah dalam soal kemerdekaan. Wali Kota Barcelona, pada Sabtu, mengecam anggota parlemen separatis karena menyeret Catalonia ke dalam kekacauan.

Sebuah jajak pendapat yang disiarkan Minggu oleh surat kabar El Pais yang berbasis di Madrid menunjukkan bahwa kurang dari sepertiga penduduk Catalan sekarang percaya bahwa kemerdekaan dimungkinkan dalam waktu dekat.

Sebanyak 28 persen responden mengatakan bahwa mereka berpikir pemisahan diri dengan cepat bisa turun tajam dari jajak pendapat serupa pada Oktober.

Rajoy sudah menggunakan kekuasaannya sebagai kepala pemerintah pusat Spanyol untuk memberhentikan anggota parlemen Catalan. Ia membekukan otonomi daerah dan meminta pemilihan kepala daerah yang baru pada 21 Desember.

Perdana menteri, yang menghadiri presentasi oleh seorang kandidat partai di hotel di Barcelona, ??tidak hadir di depan umum.

Kemerdekaan itu beracun

Partai Popular naungan Rajoy hanya memenangkan 8,5 persen dalam pemilu terakhir di Catalonai, dua tahun lalu. Kala itu, partai-partai pro-kemerdekaan menyapu kekuasaan.

Kandidatnya, Xavier Garcia Albiol, pada Minggu, mengatakan rangkaian peristiwa sejak referendum 1 Oktober menunjukkan bahwa "kemerdekaan itu beracun dan menghancurkan Catalonia."

Delapan menteri di bawah mantan pemimpin Catalan Carles Puigdemont kini ditahan atas tuduhan penghasutan, pemberontakan, dan penyalahgunaan dana publik. Dua kepala kelompok lobi pro-kemerdekaan juga berada di balik jeruji besi.

Enam mantan anggota parlemen diberi jaminan, pekan lalu, oleh Mahkamah Agung Spanyol dengan dakwaan serupa.

Polisi setempat mengatakan 750.000 orang berdemo di Barcelona, pada Sabtu, demi menuntut pembebasan pejabat yang ditahan.

Para demonstran berkumpul di sebuah jalan di samping gedung parlemen daerah sambil melambaikan bendera kemerdekaan Catalan dan meneriakkan "Kemerdekaan!" sementara beberapa lainnya mengangkat spanduk berbunyi: "SOS Democracy".

"Situasi menyedihkan, para politisi belum melakukan pekerjaan mereka," kata Robert Muni, yang beraksi demonstrasi dengan anak-anaknya. Beberapa pemrotes meneriakkan dukungan mereka terhadap Puigdemont, "presiden kita".

Tapi wali kota karismatik Barcelona, ??Ada Colau, pada Sabtu mengecam perilaku Puigdemont dan mantan menteri.

"Mereka memprovokasi ketegangan dan melakukan deklarasi kemerdekaan sepihak, yang mayoritas tidak inginkan," kata Colau dalam sebuah pertemuan anggota partainya beberapa jam sebelum demonstrasi Sabtu.

"Mereka sudah menipu penduduk demi kepentingan mereka sendiri," serunya.

Puigdemont sendiri terpaksa berada di pengasingan di Belgia. Ia dijadwalkan hadir di hadapan hakim, pekan depan, setelah Spanyol mengeluarkan surat perintah Uni Eropa untuk ekstradisinya.

Ratusan orang berkumpul di Brussels tengah, pada Minggu, mendukung kemerdekaan Catalan. Selain itu juga meminta agar Spanyol membebaskan pemimpin-pemimpin yang dipenjara.



(FJR)