UE Siap Dengarkan Penawaran Baru Inggris Soal Brexit

Willy Haryono    •    Rabu, 06 Feb 2019 08:38 WIB
uni eropabrexit
UE Siap Dengarkan Penawaran Baru Inggris Soal Brexit
PM Inggris Theresa May (tengah) meninggalkan lokasi sebuah acara di Belfast, Irlandia Utara, 5 Februari 2019. (Foto: AFP/POOL/CLODAGH KILCOYNE)

Belfast: Jajaran petinggi Uni Eropa bersiap menjamu Perdana Menteri Theresa May untuk mendiskusikan kelanjutan Brexit di Brussels, Belgia, pada Kamis 7 Januari mendatang.

Perjanjian Brexit yang mengatur kepergian Inggris dari keanggotaan UE sebenarnya sudah tercapai tahun lalu. Namun, parlemen Inggris menolak perjanjian tersebut dan mendorong PM May bernegosiasi ulang dengan UE.

Brussels kini menanti PM May mengajukan permohonan resmi untuk berdialog, namun mengingatkan bahwa perjanjian Brexit sudah tidak bisa lagi diotak-atik.

PM May nantinya akan bertemu Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker, untuk kemudian menggelar pertemuan terpisah bersama Presiden Dewan Eropa Donald Tusk.

"Meski posisi dari Komisi (Eropa) sudah jelas, kami masih menanti apa yang ingin disampaikan perdana menteri (Theresa May)," tutur juru bicara Juncker, Margaritis Schinas, kepada awak media pada Selasa 5 Februari 2019.

"Serangkaian pemungutan suara telah berlangsung di parlemen Inggris, yang menjadi basis bagi perdana menteri untuk menjelaskan apa langkah ke depan berikutnya," lanjut dia.

Bulan lalu, mayoritas anggota parlemen Inggris menolak perjanjian Brexit, terutama mengenai salah satu klausul mengenai "backstop." Mengenai Backstop, parlemen Inggris menginginkan agar perbatasan Irlandia Utara dengan Irlandia tetap dibuka setelah Brexit terjadi.

Berbicara di Irlandia Utara, PM May berjanji mencarikan solusi agar perbatasan Irlandia tetap dibuka dan juga menjaga perjanjian damai yang telah mengakhiri kekerasan sektarian berdekade-dekade lalu di wilayah tersebut.

"Saya tahu saat ini adalah momen-momen mengkhawatirkan bagi banyak warga di Irlandia Utara. Negosiasi Brexit telah menciptakan kecemasan nyata di Irlandia Utara dan Irlandia," ungkap PM May.

Tenggat waktu Brexit adalah 29 Maret mendatang. Inggris khawatir jika nantinya Brexit terjadi tanpa ada perjanjian apapun dengan UE.

Dalam kunjungannya ke Tokyo, Jepang, Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan bahwa "dua bulan adalah waktu yang singkat, tapi masih ada waktu, dan ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh semua pihak."

Baca: Ratu Inggris Akan Dievakuasi Jika Brexit Berakhir Ricuh


(WIL)