Dilarang Nyapres, Kritikus Putin Ancam Demo Berskala Nasional

Willy Haryono    •    Sabtu, 30 Dec 2017 22:43 WIB
politik rusia
Dilarang <i>Nyapres</i>, Kritikus Putin Ancam Demo Berskala Nasional
Alexei Navalny. (Foto: AFP)

Moskow: Mahkamah Agung Rusia mengukuhkan larangan bagi kritikus pemerintah Alexei Navalny untuk mencalonkan diri dalam pemilihan umum presiden. Navalny bertekad merespons larangan ini dengan unjuk rasa berskala nasional. 

"Kami tidak mau mengakui sebuah pemilu yang digelar tanpa kompetisi," tulis Navalny di Twitter, seperti dikutip Independent, Sabtu 30 Desember 2017. Dia tidak hadir dalam persidangan, namun pengacaranya berencana mengajukan banding ke Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa. 

Pengukuhan larangan sudah dapat diduga setelah komisi pemilihan pusat Rusia mengatakan pada 25 Desember lalu bahwa Navalny, 41, tidak boleh menduduki jabatan publik hingga setidaknya tahun 2028 karena masih tersandung kasus penipuan. 

Seorang pengacara anti-korupsi dengan banyak pengikut di dunia maya, Navalny menilai pengukuhan larangan ini diperkuat demi mencegah dirinya menghadapi langsung Presiden Rusia Vladimir Putin. 

Dia mengatakan Putin, yang sudah 18 tahun berkuasa di Rusia dan diprediksi memenangkan pilpres mendatang, hanya akan mempersiapkan kandidat lemah sebagai capres lawan.

Navalny menyerukan demonstrasi besar-besaran pada 28 Januari tahun depan, dan meminta ratusan ribu pendukungnya memboikot pilpres mendatang. Dia telah membawa puluhan ribu orang ke jalanan Rusia dalam menentang Putin sebanyak dua kali tahun ini. Kremlin mengatakan seruan Navalny untuk memboikot pilpres kemungkinan bersifat ilegal. 

Meski saat ini elektabilitasnya hanya dua persen, Navalny yakin dapat mengalahkan Putin dalam sebuah "pilpres yang jujur." 

Kritikus Kremlin, yang dilarang muncul di televisi nasional, telah tiga kali dipenjara sepanjang 2017. Ia ditangkap dalam upayanya mencari celah untuk bisa menjadi capres. Dia hampir buta saat seorang aktivis pro pemerintah melemparkan cairan kimia ke wajahnya. 

Putin belum pernah menyebut nama Navalny di hadapan publik. Namun dia mengatakan satu kritikus ini adalah sebuah pengaruh berbahaya, yang seruannya untuk berunjuk rasa dapat membuat Rusia jatuh ke jurang kekacauan seperti di Ukraina. 


(WIL)

Myanmar Sepakat Terima 1.500 Rohingya Setiap Pekan

Myanmar Sepakat Terima 1.500 Rohingya Setiap Pekan

4 hours Ago

Myanmar menyanggupi akan menyediakan tempat penampungan sementara bagi Rohingya yang kembali.

BERITA LAINNYA