Wakil PM Italia Minta Pemilih Prancis Tidak Dukung Macron

Arpan Rahman    •    Kamis, 24 Jan 2019 17:11 WIB
italia
Wakil PM Italia Minta Pemilih Prancis Tidak Dukung Macron
Presiden Prancis Emmanuel Macron terlibat perdebatan dengan pihak Italia. (Foto: AFP).

Roma: Ketegangan antara Italia dan Prancis semakin mendalam setelah Wakil Perdana Menteri Italia mendesak rakyat Prancis untuk tidak mendukung Emmanuel Macron dalam pemilihan yang akan datang. Imbauan itu memprovokasi tanggapan yang menghina dari Paris.

Matteo Salvini minta para pemilih untuk menghindari partai Presiden, En Marche, dalam pemilihan parlemen Eropa pada Mei. Permintaan itu dibalas oleh Nathalie Loisseau, menteri Prancis urusan Eropa. Ia menepis komentar Salvini sebagai tidak penting dan bersikeras bahwa mereka tidak akan memicu 'kompetisi yang paling bodoh'.

"Di Prancis mereka memiliki pemerintahan yang buruk dan presiden Republik yang buruk," tulis Salvini, yang juga memimpin Liga Utara sayap kanan, di Facebook.

"Macron berbicara tentang penyambutan, tetapi kemudian menolak imigran di perbatasan. Rakyat Prancis layak mendapatkan yang lebih baik dan pemilu Eropa tanggal 26 Mei akan memberikan sinyal yang baik," hasutnya, seperti disitat dari laman Guardian, Rabu 23 Januari 2019.

Lebih memanas-manasi lagi, Luca Morisi, ahli strategi media sosial Salvini, memposting foto sang Wakil PM dengan Marine Le Pen, mitranya dari Prancis sehaluan sayap kanan, yang dikalahkan Macron dalam pemilu 2017, di laman Facebook-nya dibubuhi tulisan: "Matteo + Marine, mimpi terburuk Macron!" 

Salvini telah menjalin kemitraan dengan Le Pen sebagai bagian dari upaya nasionalis untuk" menyelamatkan Eropa sejati" dalam pemilu Uni Eropa.

Salvini mengambil kesempatan menyerang Macron setelah Luigi Di Maio, mitra koalisinya dan pemimpin Gerakan 5-Star yang antikemapanan, menuai badai dengan tuduhan Prancis menciptakan kemiskinan di Afrika dan menyebabkan migrasi massal ke Eropa. Utusan Italia di Prancis, Teresa Castaldo, dipanggil pada Senin atas apa yang dijelaskan oleh Kementerian Luar Negeri Prancis sebagai pernyataan "bermusuhan".

Sebagai tanggapan, Loisseau mengatakan penghinaan itu "tidak berguna" dan tidak akan berpengaruh pada kebijakan Prancis. Dia berkata: "Di Prancis, kami memiliki ekspresi yang mengatakan apa pun yang berlebihan tidak signifikan. Ketika komentar berlebihan mereka, oleh karena itu, tidak signifikan."

Dia tambahkan tidak akan mengunjungi Italia sampai 'iklim tenang.'

Salvini juga meminta Macron untuk mengembalikan 14 buron Italia yang tinggal di Prancis. Ini kali kedua ia mengajukan permintaan sejak Cesare Battisti, mantan gerilyawan sayap kiri yang dihukum empat pembunuhan pada akhir 1970-an, diekstradisi dari Amerika Selatan pekan lalu setelah hampir 40 tahun dalam pelarian. "Saya ingin presiden Prancis menunjukkan perasaan yang sama seperti yang dilakukan (Presiden Brasil Jair) Bolsonaro," kata Salvini.

Italia dan Prancis menikmati hubungan baik sebelum koalisi 5-Star berkuasa Juni lalu. Segalanya menjadi awal yang buruk setelah Macron berbicara tentang "kusta populis" dalam sebuah sindiran melawan pemerintah baru Italia.


(FJR)