Fillon Berpotensi Besar Jadi Presiden Prancis

Arpan Rahman    •    Senin, 28 Nov 2016 11:01 WIB
pemilu prancis
Fillon Berpotensi Besar Jadi Presiden Prancis
Francois Fillon (kanan) bersama rekannya menjelang pemilu pendahuluan Partai Republik Prancis, 27 November 2016. (Foto: AFP/PATRICK KOVARIK)

Metrotvnews.com, Paris: Francois Fillon memenangkan pemilu pendahuluan Prancis, Minggu 27 November. Ajang ini kali pertama dihelat Partai Republik Prancis. Fillon pun berhak maju ke pemilihan presiden Prancis mendatang. 

Kampanyenya menjanjikan reformasi pasar bebas, tindakan tegas terhadap masalah keimigrasian dan juga ekstremisme. Ia berhasil mengalahkan saingannya, Alain Juppe, yang merupakan politikus moderat. 

"Presiden! Presiden!" teriakan pendukungnya kala mantan perdana menteri itu menyatakan kemenangan atas Juppe dalam pemilihan tingkat nasional.

Jajak pendapat menyebutkan, ketenangan dan kewibawaan Fillon, 62, berpeluang besar memenangi kursi kepresidenan Prancis dalam pemilu April-Mei tahun depan. Pilpres akan digelar di tengah rasa frustrasi masyarakat terhadap kepemimpinan Sosialis Prancis saat ini.

Fillon, menjabat perdana menteri 2007-2012 di bawah mantan Presiden Nicolas Sarkozy, menikmati lonjakan popularitas mengejutkan dalam beberapa pekan terakhir. Mencuatnya sentimen nasionalis di seluruh Eropa mungkin telah menyokong posisi konservatifnya yang keras. Sementara Juppe berada dalam posisi yang lebih moderat.

Juppe, 71, telah mengucapkan selamat kepada Fillon atas "kemenangan besarnya."

Seperti dilansir Daily Mail, Senin (28/11/2016), Prancis membutuhkan "suatu perubahan lengkap dari perangkat lunaknya," kata Fillon, seraya berjanji membela "nilai-nilai Perancis."

Sejumlah janji Fillon lainnya adalah memangkas belanja publik, membatasi jumlah imigran, mendukung nilai-nilai tradisional, dan berkomunikasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.


Fillon (kanan) dan Juppe. (Foto: AFP)

Eksperimen Republik

Dari 96 persen suara yang masuk, penyelenggara pemilu pendahuluan Partai Republik mengatakan, Fillon memperoleh 66,5 persen suara dan Juppe 33,5 persen. Lebih 4 juta dari 44 juta pemilih Prancis memberikan suara. Ini dianggap tingkat keikutsertaan yang bagus karena pemilu pendahuluan ini merupakan eksperimen Partai Republik. 

Tantangan terberat dihadapi Fillon menjelang pertarungannya melawan pemimpin sayap kanan, Marine Le Pen. Le Pen, kandidat dari partai Front Nasional, menjalankan kampanye anti-kemapanan yang menargetkan imigran, minoritas Muslim Perancis, dan Uni Eropa.

Presiden berhaluan Sosialis, Francois Hollande, akan mengumumkan sikapnya dalam beberapa pekan mendatang, apakah ia akan kembali maju dalam pemilu. Tapi sayap kiri erancis telah begitu lemah lantaran ketidakpopuleran ekstrim Hollande. Calon lain yang tidak diunggulkan, Emmanuel Macron, mantan menteri ekonomi, menggalang kampanye di kalangan moderat.

Di negeri yang masih limbung setelah dilantak rangkaian serangan kelompok Islamic State (ISIS), Fillon ingin melarang militan asal Prancis pulang dari Timur Tengah. Dia baru-baru ini menerbitkan sebuah buku berjudul "Menaklukkan Totalitarianisme Islam."

Ia penganut Katolik, beristri asal Inggris 36 tahun, dan dikaruniai lima anak. Fillon berjanji mengurangi hak adopsi bagi pasangan sesama jenis. Tapi tidak akan membatalkan aturan yang berlaku sejak 2013 yang memungkinkan pernikahan sejenis.


Marine Le Pen. (Foto: AFP)

Tekad Bangkitkan Ekonomi

Proposalnya yang paling dramatis menyangkut ekonomi Prancis yang sejak lama stagnan, yang ditandai dengan pengangguran kronis di angka 10 persen.

Dia juga hendak memotong pajak usaha, memangkas belanja publik sebesar 110 miliar euro atau setara USD116 miliar, dan mengurangi jumlah pegawai negeri. Dia akan menaikkan usia pensiun dari 62 menjadi 65 tahun, memperpanjang hari kerja menjadi 35 jam lebih, dan memudahkan aturan kerja yang ketat dalam rangka meningkatkan lowongan pekerjaan.

Selain pernah menjabat perdana menteri, dia menjadi menteri kabinet enam kali, dan menghabiskan bertahun-tahun sebagai anggota parlemen mewakili kota kelahirannya Le Mans di Prancis barat yang terkenal sebagai arena lomba balap mobil.

Baik Fillon dan Juppe, berkampanye pada bingkai ekonomi yang sama, adalah pemimpin berprofil tinggi dari Republik yang menendang Sarkozy -- mantan bos mereka -- dari putaran pertama pemilu pendahuluan dalam voting pekan lalu. Sarkozy kemudian mendukung Fillon.

Fillon mengaku ingin menjatuhkan sanksi terhadap Rusia atas tindakan agresif di Ukraina, namun juga berniat bekerja sama dengan Rusia dalam memerangi ekstremis ISIS. Fillon menegaskan "Rusia tidak menimbulkan ancaman" untuk Barat.

Semua warga negara Prancis berusia di atas 18 -- anggota partai Republik atau bukan -- berhak memilih di pemilu pendahuluan jika mereka membayar 2 euro sebagai biaya pendaftaran dan menandatangani janji yang menyatakan mereka mau "berbagi nilai-nilai kaum Republik."



(WIL)