PM Inggris: Kemungkinan Rusia Serang Eks Mata-Mata

Marcheilla Ariesta    •    Selasa, 13 Mar 2018 13:47 WIB
rusia
PM Inggris: Kemungkinan Rusia Serang Eks Mata-Mata
PM Inggris tuding Rusia dalang serangan eks mata-mata. (Foto: AFP).

London: Perdana Menteri Inggris Theresa May menuturkan Rusia kemungkinan besar dalang di bali serangan racun mantan agen ganda Sergei Skripal dan putrinya, Yulia pekan lalu.

"Pemerintah berhasil menyimpulkan kemugkinan besar Rusia ada di balik penyerangan tersebut," kata May di hadapan Dewan Parlemen, dilansir dari laman CNN, Selasa 13 Maret 2018.

May melontarkan dugaan setelah hasil penyelidikan menunjukkan Skripal terpapar racun Novichok, jenis senjata kimia yang dikembangkan Rusia. Dia menuturkan, Rusia sering menggunakan racun tersebut untuk membunuh mereka yang dianggap pembangkang.

Dia menuntut tanggapan dari Pemerintah Rusia pada Selasa 13 Maret waktu setempat.

"Penilaian kami, Rusia memandang beberapa pembelot sebagai target pembunuhan, pemerintah menyimpulkan bahwa kemungkinan besar Rusia bertanggung jawab atas tindakan tersebut terhadap Sergei dan Yulia Skripal," imbuhnya.

Percobaan pembunuhan menggunakan racun syaraf ini dianggap sembrono. Pasalnya, menurut May, masyarakat Inggris yang tidak bersalah berada dalam bahaya.

"Kita tidak akan mentolerirnya," tegas dia.

Kemarin, Pemerintah London meminta para pengunjung restoran Zizi atau Pub Mill di Salisbury, Inggris untuk mencuci baju mereka. Terlebih pengunjung yang datang ke restoran tersebut pada 4 hingga 5 Maret lalu.

Tak hanya itu, Kementerian Kesehatan Masyarakat juga mengatakan barang-barang pribadi, seperti tas, telepon genggam, jam tangan dan barang elektronik lain harus di lap menggunakan pembersih atau tisu bayi. Tisu itu kemudian harus langsung dibuang ke tempat sampah.

Skripal ditemukan tak sadarkan diri bersama putrinya di bangku restoran tersebut. Eks intel ini, dilaporkan mengkhianati agen rusia untuk bersatu dengan intelijen Inggris sebelum ditangkap di Moskow pada 2004.

Ia dijatuhi hukuman 13 tahun penjara pada 2006 dan pada 2010 ia diberi perlindungan hukum di Inggris.


(WIL)