Pengadilan Pidana Internasional Bekas Yugoslavia Ditutup Desember

Sonya Michaella    •    Kamis, 23 Nov 2017 11:37 WIB
pengadilan kriminal internasional
Pengadilan Pidana Internasional Bekas Yugoslavia Ditutup Desember
Pengadilan Pidana Internasional untuk Bekas Yugoslavia, Den Haag, Belanda. (Foto: gycvillage.org)

Belgrade: Pengadilan Pidana Internasional untuk Bekas Yugoslavia akan ditutup bulan depan setelah mencoba menghakimi puluhan orang di balik kekejaman terburuk Eropa sejak Perang Dunia II.

Pengadilan Pidana yang kerap disebut dengan ICTY ini adalah pengadilan kejahatan perang pertama yang dibentuk oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan dibentuk sejak pengadilan Nurenberg yang mengejar orang-orang di balik kengerian rezim Nazi Jerman.

Dikutip dari AFP, Kamis 23 November 2017, seorang pengacara internasional dan peneliti dari Clingendael Institute, Diana Goff mengatakan bahwa meski ditutup, warisan ini akan dikenang selamanya.

Badan ini hanya bisa mengadili orang secara pribadi dan bukan organisasi atau pemerintahan. Hukuman maksimum adalah penjara seumur hidup.

Beberapa negara telah menandatangani perjanjian dengan PBB mengenai pelaksanaan hukuman ini. Vonis terakhir dijatuhkan pada 15 Maret 2004.

Badan ini juga memiliki tujuan untuk mengakhiri semua sidang pada akhir 2008 dan semua kasus banding pada 2010.

"Hampir semua pihak dalam konflik percaya bahwa mereka menjadi sasaran ICTY," kata Mark Kersten, seorang peneliti dalam peradilan pidana internasional. 

Beberapa ahli pun menduga, ICTY bisa menjadi model untuk mengadili orang-orang yang berada di balik kejahatan Suriah dan Myanmar. 

Sekarang, pengadilan bersiap untuk menutup pintunya pada 31 Desember 2017 di mana sebelumnya mereka telah mendakwa 161 orang.

(FJR)