PM Lebanon Bertolak ke Prancis Penuhi Undangan Presiden Macron

Marcheilla Ariesta    •    Sabtu, 18 Nov 2017 10:49 WIB
konflik lebanon
PM Lebanon Bertolak ke Prancis Penuhi Undangan Presiden Macron
PM Lebanon Saad Hariri selama ini dituduh ditahan di Arab Saudi (Foto: AFP).

Riyadh: Perdana Menteri Lebanon, Saad al-Hariri meninggalkan Riyadh, ibu kota Arab Saudi untuk memenuhi undangan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Kepergiannya ke Paris juga untuk meredakan rumor di mana dia dirasa disandera oleh pihak Arab Saudi.

"Hariri meninggalkan bandara Riyadh dengan jet pribadinya bersama istrinya menuju Bandara Le Bourget," ujar stasiun televisi milik keluarga Hariri, Future TV.

(Baca: Perjalanan Hariri ke Prancis sebagai Solusi Awal Atasi Krisis Lebanon).

AFP, Sabtu, 18 November 2017, melaporkan diperkirakan mereka tiba di Paris sekitar pukul 7 pagi waktu setempat.

Kepergian Hariri ini merupakan undangan dari Macron, yang disampaikan lewat Menteri Luar Negeri Prancis Jena-Yves Le Drian di Riyadh pada Kamis lalu.

Presiden Lebanon, Michel Aoun menyebutkan bahwa keputusan Hariri untuk ke Prancis sebagai solusi awal bagi krisis yang tengah dihadapi negara tersebut. Hariri yang mengumumkan pengunduran dirinya saat berada di Arab Saudi pada 4 November lalu membuat pihak Lebanon terkejut. Aoun menuduh Pemerintah Arab Saudi sengaja menahan perdana menterinya.

"Kami berharap bahwa krisis sudah berakhir dan Hariri menerima undangan untuk pergi ke Prancis merupakan awal dari sebuah solusi," ujar Aoun dalam akun Twitter resmi presiden, Kamis lalu.

"Saya sedang menunggu kembalinya Perdana Menteri Hariri dari Paris agar kita bisa memutuskan langkah selanjutnya berkaitan dengan pemerintah," tambah Aoun.

Hariri belum kembali ke Lebanon sejak mengumumkan pengunduran dirinya. Namun, Aoun mengaku dia belum menerima penguduran diri sang PM dan menunggunya kembali ke Lebanon.

Dalam pernyataan pengunduran dirinya, Hariri (47) menuduh saingan berat Arab Saudi, Iran dan sekutunya Hizbullah, membuat negara dan wilayahnya menjadi tidak stabil. Spekulasi beredar seputar nasib Hariri yang memiliki kewarganegaraan ganda, yaitu Arab Saudi dan Lebanon.


(FJR)