PM Inggris Minta Rakyat Dukung Brexit

Sonya Michaella    •    Minggu, 25 Nov 2018 12:04 WIB
brexit
PM Inggris Minta Rakyat Dukung Brexit
PM Inggris Theresa May. (Foto: AFP)

London: Perdana Menteri Inggris Theresa May menulis sebuah surat yang meminta rakyat untuk mendukung kesepakatan Inggris keluar dari Uni Eropa. Kesepakatan itu rencananya akan ditandatangani pekan depan.

Para pemimpin negara Uni Eropa telah berkumpul di Brussels, Belgia, untuk memutuskan apakah akan mendukung keputusan Inggris tersebut, Sabtu 24 November 2018. 

Sementara itu, Kepala Dewan Uni Eropa Donald Tusk telah merekomendasikan semua negara menyetujui Brexit. Jika Uni Eropa setuju Inggris keluar, kesepakatan tersebut harus disahkan oleh Parlemen Inggris, termasuk Partai Konservatif.

"Ini akan menjadi kesepakatan untuk kepentingan nasional kita. Kita bekerja untuk seluruh negara kita dan semua rakyat, apakah Anda memilih 'Meninggalkan' atau 'Tetap'," kata May, dikutip dari BBC, Minggu 25 November 2018.

Baca: Negosiasi Brexit Siap Dibahas Kembali

Dalam surat tersebut, May mendesak warga Inggris untuk mau memulai era baru untuk persatuan politik ketika meninggalkan Uni Eropa.

"Saya ingin momen ini menjadi momen pembaharuan dan rekonsilisasi untuk seluruh warga. Parlemen akan memiliki kesempatan untuk mengesahkan kesepakatan yang sangat berarti tersebut," lanjut dia.

Para pemimpin Uni Eropa akan diminta untuk menyetujui dua dokumen utama Brexit. Pertama adalah deklarasi politik dan perjanjian penarikan Uni Eropa setebal 585 halaman.

Dalam deklarasi politik, akan diuraikan hal-hal seperti perdagangan dan keamanan antara Inggris dan Uni Eropa berfungsi setelah Inggris keluar. Dalam Perjanjian penarikan Uni Eropa, akan ditetapkan pesyaratan keluarnya Inggris dari Uni Eropa yang mencakup biaya, hak warga negara, dan perbatasan dengan Irlandia Utara.

Baca: Menteri Mundur, Proses Brexit Makin Alot

Jika Uni Eropa menandatangani kesepakatan tersebut, May harus membujuk anggota Parlemen Inggris untuk mendukung Brexit. Pemungutan suara parlemen direncanakan digelar Desember 2018.

Kemudian, kesepakatan tersebut kembali ke Dewan Eropa di mana anggota Uni Eropa juga akan memilih setuju atau tidak dan perlu diratifikasi oleh Parlemen Eropa. Jika anggota parlemen menolak kesepakatan tersebut, beberapa kemungkinan akan terjadi seperti meninggalkan Uni Eropa tanpa kesepakatan, upaya negosiasi kembali atau referendum ulang.



(WIL)