Hasil Kajian Sawit Lestari Indonesia Dibahas di Norwegia

   •    Minggu, 12 Nov 2017 17:07 WIB
kelapa sawit
Hasil Kajian Sawit Lestari Indonesia Dibahas di Norwegia
Peneliti melakukan kajian sawit lestari Indonesia di Oslo, Norwegia (Foto: Dok.Kemenlu RI).

Oslo: Sawit menjadi salah satu komoditi andalan dari Indonesia. Berbagai upaya dilakukan untuk mengembangkan sawit demi kepentingan masyarakat luas.

Pada 6 November 2017 berlokasi di Norwegian Centre for Human Rights (NCHR) University of Oslo, Direktorat Eropa II bekerja sama dengan Kedutaan Besar RI di Oslo; Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Amerika dan Eropa, serta University of Oslo telah menyelenggarakan 'Diseminasi Hasil Kajian Sawit Lestari Indonesia'.

Diseminasi tersebut menghadirkan sejumlah anggota Tim Collaborative Reseach Centre (CRC) 990 sebagai narasumber dan diikuti oleh berbagai pejabat Kementerian Iklim dan Lingkungan Hidup Norwegia, Norwegian Agency for Development Cooperation (NORAD), Tim Akademisi dan think tank dari UiO dan Norwegian University of Life Sciences (NMBU), NGO Rainforest Foundation, dan berbagai pemangku kepentingan terkait di Norwegia.

Pertemuan ini membahas sejumlah aspek penting terkait dengan pendekatan holistik dari pembangunan berkelanjutan yang dibagi menjadi tiga kelompok pembahasan sesuai dengan jumlah peneliti yang hadir memaparkan hasil kajian tersebut.

Dr. Bambang Irawan dari Universitas Jambi memaparkan mengenai Biota and Ecosystem Services dimana lahan kelapa sawit mengurangi kekayaan hayati dan hewani di lingkungan sekitar walaupun terdapat pertambahan jumlah spesies baik untuk kesuburan tanah: bakteri, archea, testae amoeba, jamur dan semut. Disampaikan Tim CRC 990 melakukan percobaan menanam beberapa spesies tumbuhan: petai, jengkol, durian, jelutung, sungkai dan meranti tembaga yang ditanam di dalam area terkait. Pada tahun berikutnya terdapat penambahan jumlah spesies burung dan invertebrata menambah keanekaragaman spesies di lahan sawit. 

Dr. Christian Stiegler dari Gottingen University Jerman menjelaskan studi mengenai Environmental Processes yang dilakukan untuk melakukan investigasi efek perubahan lahan terhadap proses tanah, air dan udara. 

"Penyerapan air lahan sawit berimbang dengan penyerapan air hutan. Karbon yang diserap oleh lahan sawit sangat baik dan telah meningkat dengan adanya lahan sawit di Jambi, tepatnya di wilayah Air Hitam dan Sungai Buluh," ujar Dr Stiegler, dalam keterangan tertulis Kementerian Luar Negeri RI, yang diterima Metrotvnews.com, Minggu 12 November 2017. 

"Lahan sawit muda melepaskan panas ke udara dan menjadi sumber panas, berbanding terbalik dengan lahan sawit dewasa yang menyerap panas dengan sangat baik," imbuhnya. 

Namun demikian lahan sawit menjadi sumber karbon yang sangat signifikan saat terjadi kekeringan panjang pada tahun 2015. Kebakaran lahan yang terjadi, baik secara natural maupun akibat ulah manusia menghasilkan asap kabut pekat menghalangi cahaya matahari. 

Ketiadaan sinar matahari menyebabkan lahan sawit menjadi sumber karbon  tinggi dan kabut asap selama dua bulan di wilayah tersebut. Karenanya diperlukan penanganan dan mitigasi potensi bencana, terutama kebakaran untuk menyeimbangkan kondisi dan menjadikan sawit baik untuk lingkungan dan berkelanjutan.
 
Sementara Dr. Soeryo Adiwibowo, Penasihat Senior Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Peneliti Senior Institut Pertanian Bogor menyampaikan hasil penelitian akan dampak Socio Economy Aspect-Human Dimension dari faktor pendorong, dampak dan pertukaran dari proses perubahan ke lahan sawit. Pada awalnya hingga saat ini perkebunan karet masih menjadi komoditas pertanian paling tinggi di wilayah Jambi. 

"Kelapa sawit menjadi komoditas perdagangan dengan tingkat tertinggi perubahan lahan. Namun lahan sawit merubah fungsi lahan tanaman karet dan lahan tidur bukan hutan," tutur Dr Soeryo. 

"Secara ekonomi, kelapa sawit mendorong peningkatan kondisi ekonomi desa dan warga sekitar melalui peningkatan taraf hidup dan pendidikan warga. Hal tersebut dapat dilihat dari meningkatnya jumlah anak sekolah. Namun diakui masih terdapat masalah sosial yang menjadi pendorong deforestasi yakni buruknnya penegakan hukum, kurangnya akses dan kejelasan kepemilikan lahan dan keterbatasn lahan di Jawa yang menyebabkan transmigrasi penduduk ke wilayah luar jawa," imbuhnya.  

Turut disampaikan tiap desa dan warga atau suku di wilayah lahan sawit mengelompokkan diri mereka berdasarkan like and dislike dan mendekatkan diri mereka kepada NGO yang paling menguntungkan. Hal ini menyulitkan pemerintah lokal untuk dapat mengatur dan menyelaraskan kesamaan persepsi karena tiap lembaga swadaya masyarakat (NGO) dan suku memiliki kepentingan masing-masing. 

Diskusi berjalan lancar dan kondusif. Bahkan NGO Rain Forest Foundation yang bertujuan melindungi hutan hujan tropis dan indigenous people memberikan apresiasi terhadap inisiatif Kemlu terhadap kegiatan diseminasi hasil kajian ini. Sejumlah NGO di Norwegia yang hadir dalam diseminasi terkait mengharapkan kelanjutan proses akses informasi dan partisipasi aktif masyarakat madani atau civil society dalam masalah lingkungan hidup di Indonesia, termasuk penggunaan hasil kajian oleh Universitas untuk pengembangan kapasitas small holders di Indonesia. 

UiO menyarankan perhatian lebih lanjut terkait upaya penegakkan hukum di sektor tata kelola sawit Indonesia, tidak hanya ditujukan untuk smallholders, namun juga perusahaan besar kelapa sawit. Selain itu juga memberikan apresiasi atas upaya Kementerian Luar Negeri RI memfasilitasi penelitian yang dilakukan sejumlah peneliti dalam proses penentuan kebijakan di Indonesia.

Selain itu UiO juga memberikan perhatian khusus terhadap aspek hak asasi manusia dan industri kelapa sawit. Kalangan Universitas di Indonesia dapat menjajaki kerja sama dalam hal penelitian dengan universitas dimaksud berkenaan dengan aspek Sosial Ekonomi. Norwegia sangat menaruh perhatian terhadap aspek lingkungan hidup, kesehatan dan deforestasi dalam industri kelapa sawit.

Hasil “Diseminasi Hasil Kajian Sawit Lestari” Tim CRC 990 tersebut diharapkan akan terus dicermati untuk dapat dijadikan sebagai bahan masukan penyusunan policy brief dan sebagai bahan masukan perspektif yang positif terhadap kelapa sawit Indonesia dalam rangka implementasi prinsip keberlanjutan dalam industri sawit yang sejalan dengan Sustainable Development Goals of the United Nations sesuai Agenda 2030.


(FJR)