Pegawai Kosongkan Konsulat Rusia di San Francisco

Arpan Rahman    •    Sabtu, 02 Sep 2017 16:08 WIB
as-rusia
Pegawai Kosongkan Konsulat Rusia di San Francisco
Gedung Konsulat Jenderal Rusia di San Francisco dikosongkan oleh diplomat Negeri Beruang Merah (Foto: CNN).

Metrotvnews.com, San Francisco: Sejumlah karyawan terlihat bergegas keluar saat konsulat Rusia di San Francisco tutup menjelang batas waktu, Sabtu 2 September, yang diberlakukan oleh pihak Washington. Mereka meninggalkan lokasi sehari setelah asap hitam membubung naik dari cerobong asap di gedung tersebut.
 
Rusia telah diberitahu, pada Kamis 31 Agustus, supaya menutup konsulat San Francisco, yang mencakup wilayah kerja New York dan Washington, di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Moskow.
 
Perintah agar meninggalkan konsulat dan tempat tinggal di kediaman diplomatik resmi di San Francisco -- hunian bagi komunitas pekerja imigran dan teknologi Rusia -- memperburuk perselisihan yang menegangkan antara Washington dan Moskow. Apalagi bagi mereka yang telah lama memantau kegiatan di dalam gedung yang diawasi secara ketat.
 
"Akhirnya, timbul kesadaran pemerintah bahwa Rusia sudah terlibat dalam operasi intelijen di konsulat ini, yang mereka lakukan selama puluhan tahun," kata Rick Smith, agen khusus veteran FBI, yang sebelumnya memimpin tim kontra-intelijen Rusia di San Francisco .
 
"Ini hampir 50 tahun sejarah dan bagian dari pembalasan setimpal, tapi lebih tampak seperti sebuah hantaman," cetusnya seperti disitat Al Jazeera, Sabtu 2 September 2017.
 
Dalam sebuah pernyataan yang diposting di Facebook, konsulat Rusia mengatakan penutupan tersebut akan merugikan warga Rusia dan Amerika yang membutuhkan jasa konsulat.
 
Konsulat tersebut mengeluarkan lebih dari 16.000 visa turis bagi warga Amerika tahun lalu, katanya.
 
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengklaim bahwa "agen khusus" AS bermaksud menggeledah konsulat, pada Sabtu.
 
AS juga berencana mencari apartemen di San Francisco, yang digunakan oleh diplomat Rusia dan keluarga mereka, katanya -- keluarga tersebut harus mengosongkan rumah mereka dalam 10 sampai 12 jam sehingga para agen dapat merazianya.
 
Pemadam kebakaran balik kanan
 
Kementerian Luar Negeri AS tidak berkomentar secara khusus mengenai apakah para penyidik berencana memburu lokasi itu. Namun Kemenlu AS mengatakan, pada Sabtu, akses ke konsulat hanya akan diberikan dengan izin dari Deplu AS.
 
Tidak ada komentar mengenai asap hitam yang berasal dari kedutaan di San Francisco, yang memicu kedatangan tim Pemadam Kebakaran San Francisco.
 
Petugas pemadam kebakaran yang tiba di lokasi kejadian disuruh pulang oleh petugas konsulat yang muncul dari dalam gedung.
 
Reporter kantor berita Associated Press mendengar orang-orang yang datang dari dalam gedung mengatakan kepada petugas pemadam kebakaran bahwa tidak ada masalah dan petugas konsulat itu hanya membakar barang-barang yang tidak penting di perapian.
 
Mindy Talmadge, juru bicara Dinas Pemadam Kebakaran San Francisco, mengatakan bahwa departemen tersebut menerima telepon tentang asap dan mengirim seorang awak untuk menyelidiki. Namun memastikan asapnya berasal dari cerobong asap.
 
Talmadge berkata bahwa dia tidak tahu apa yang mereka bakar. Di hari itu suhu San Francisco yang biasanya sejuk naik sampai 95 derajat pada siang hari.
 
"Itu tidak disengaja, mereka membakar sesuatu di perapian mereka," katanya.
 
Pejabat kontra-intelijen Amerika sudah lama mengawasi ketat pos terdepan Rusia di San Francisco. Seraya khawatir bahwa orang tertentu ditempatkan di konsulat saat para diplomat terlibat dalam spionase.
 
Selain Konsul Sergey Petrov, situs konsulat tersebut menunjuk 13 pejabat Rusia lainnya bekerja di pos San Francisco.
 
Dihubungi pada Jumat, Petrov menolak menjawab pertanyaan tentang penutupan konsulat atau tentang apa yang dibakar di dalamnya.



(FJR)

Etnis Rohingya Masih Diperlakukan tak Adil

Etnis Rohingya Masih Diperlakukan tak Adil

8 hours Ago

Jika Pemerintah Myanmar ternyata tidak konkret dalam menjalankan usulan Pemerintah Indonesia, pihaknya…

BERITA LAINNYA