Hadang Rusia, NATO Sepakati Tingkatkan Penggunaan Senjata Siber

Arpan Rahman    •    Kamis, 09 Nov 2017 16:43 WIB
natorusia
Hadang Rusia, NATO Sepakati Tingkatkan Penggunaan Senjata Siber
Pertemuan Menhan NATO membahas ancaman perang siber Rusia (Foto: AFP)

Brussels: Segenap anggota NATO sepakat, pada Rabu 8 November, meningkatkan penggunaan senjata dan taktik siber selama operasi militer. Aliansi tersebut juga meningkatkan kekuatan lain buat memerangi Rusia yang bangkit kembali.

Perubahan itu merupakan bagian dari gejolak aliansi terbesar sejak Perang Dingin. Kalangan menteri pertahanan mendukung pembentukan dua pusat komando baru demi membantu melindungi Eropa.

Perombakan tersebut mencerminkan "ruang lingkup keamanan yang berubah" beberapa tahun terakhir, kepala NATO Jens Stoltenberg mengatakan pada sebuah pertemuan menteri pertahanan di Brussels.

Ancaman terhadap sayap timur aliansi sudah tumbuh sebagai kekhawatiran setelah aneksasi Rusia atas Krimea pada 2014.

"Kami sekarang mengintegrasikan efek siber dalam misi dan operasi NATO untuk menanggapi perubahan dan keamanan baru di mana siber menjadi bagian dari gambaran ancaman yang harus kami tanggapi," kata Stoltenberg.

"Dalam setiap konflik militer, siber akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dan oleh karena itu kita perlu memperkuat pertahanan siber dan kemampuan siber kita," tambahnya, sembari mencatat bahwa taktik semacam itu efektif dalam memerangi ekstremis Islamic (ISIS) di Irak dan Suriah.

Setelah bertahun-tahun melucuti struktur komandonya sejak berakhirnya Perang Dingin, NATO ingin menambah pusat komando baru -- satu buat melindungi jalur komunikasi di seberang Atlantik dan satu untuk mengkoordinasikan pergerakan pasukan dan persenjataan di seantero Eropa.

Pembentukan gerbang operator siber NATO baru mencuat saat aliansi menghadapi ratusan serangan di jaringannya setiap bulan. Ketakutan meningkat seiring taktik elektronik Kremlin.

NATO menyatakan penyerang siber mengganggu situs web, menghambat teknologi komunikasi, dan sabotase digunakan dalam pertempuran -- sebagai domain konflik tahun lalu, menempatkannya setara dengan perang darat, laut, dan udara.

"Kami sudah melihat Rusia yang lebih angkuh, kami telah menyadari Rusia yang selama bertahun-tahun banyak berinvestasi dalam kemampuan militer mereka," kata Stoltenberg.

"NATO harus bisa menanggapi hal itu. Kami terus beradaptasi dan apa yang sedang kami lakukan di Eropa sekarang adalah bagian dari adaptasi itu," imbuhnya, seperti dinukil Japan Times, Kamis 9 November 2017.

Kecakapan siber sekarang akan disertakan dalam misi NATO dengan cara yang sama seperti pesawat, tank, dan kapal -- terintegrasi sepenuhnya, namun tetap berada di bawah kendali negara yang berkontribusi.

Pertemuan dua hari di markas besar NATO juga membahas krisis nuklir Korea Utara (Korut), yang menjadi fokus di sela santap malam, pada Rabu, di mana jajaran menteri pertahanan bergabung dengan kepala diplomatik Uni Eropa, Federica Mogherini.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tiba di Beijing, pada Rabu, untuk menekan Tiongkok berbuat lebih banyak agar Pyongyang dapat mengekang program senjata nuklir dan balistiknya.

Ketegangan meningkat sejak Pyongyang melakukan uji coba nuklir keenam -- yang paling kuat sampai saat ini -- pada September.

"Semua sekutu NATO setuju bahwa kita harus memberikan tekanan kuat pada Korut karena bertanggung jawab atas perilaku sembrono, tidak bertanggung jawab, yang mengembangkan senjata nuklir dan rudal," kata Stoltenberg.

Pada Kamis, perundingan akan beralih soal Afghanistan, di mana NATO berencana meningkatkan misi pelatihan dan dukungannya bagi pasukan lokal dengan sekitar 3.000 tentara.

Menhan AS Jim Mattis akan mengadakan pertemuan terpisah dengan mitra dari koalisi yang memerangi ISIS di Timur Tengah, di mana militan terus kehilangan wilayahnya.

Saat terbang ke Eropa, Mattis mengatakan kepada wartawan bahwa mitra koalisi meminta rencana yang jelas AS tentang apa yang selanjutnya setelah kekalahan fisik ISIS.

"Mungkin tiga perempat dari pertanyaan yang saya ajukan sekarang adalah (tentang) ke depan. Mereka sekarang mengatakan: 'Apa selanjutnya? Bagaimana tampaknya?'" kata Mattis.

Setelah kehilangan wilayah, termasuk kubu Raqqa dan Mosul di Suriah dan Irak mereka, pejuang ISIS mempertahankan benteng terakhir mereka di sepanjang lembah Sungai Efrat.

Keterlibatan militer Amerika di Suriah sampai sekarang telah difokuskan hanya pada pertarungan lawan ISIS.

Seorang sumber Prancis juga mengatakan bahwa sekutu-sekutunya ingin mendengar apa yang Mattis katakan tentang peran Iran -- pendukung utama Presiden Suriah Bashar Assad -- menyusul retorika Trump yang keras atas Teheran.



(FJR)