May Temui Xi Jinping saat China Abaikan Tuntutan Kebebasan Hong Kong

Arpan Rahman    •    Sabtu, 08 Jul 2017 13:09 WIB
ktt g20
May Temui Xi Jinping saat China Abaikan Tuntutan Kebebasan Hong Kong
PM Inggris Theresa May di KTT G20, Hamburg, Jerman (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Hamburg: Xi Jinping mengatakan kepada Theresa May bahwa China dan Inggris harus 'menyisihkan perbedaan mereka'. Sementara Inggris menepis upaya Beijing agar mundur dari komitmen terhadap kebebasan dan otonomi Hong Kong.
 
Presiden China dan Perdana Menteri Inggris mengadakan pertemuan bilateral 30 menit di G20 di Hamburg, Jerman, pada Jumat 7 Juli 2017. Pertemuan terjadi sepekan usai persilangan kata-kata antara London dan Beijing mengenai Hong Kong.
 
Menurut Xinhua, Xi mengatakan kepada May bahwa Inggris dan China harus "saling menghormati kepentingan inti dan kepentingan utama masing-masing" -- di mana Beijing menganggap bekas koloni Inggris itu sebagai salah satu soal.
 
"China dan Inggris perlu mencari kesamaan sementara itu mengabaikan perbedaan, dan melestarikan keseluruhan pengembangan hubungan bilateral melalui upaya nyata demi mencapai perkembangan hubungan bilateral yang lebih stabil, cepat, dan baik," Xi menambahkan, seperti dikutip The Guardian, Sabtu 8 Juli 2017.
 
Pejabat Downing Street mengatakan kepada wartawan bahwa May telah memanfaatkan pertemuan tersebut buat mendesak China memberi tekanan lebih besar kepada Korea Utara mengenai program nuklir dan misilnya. Dia juga dilaporkan "menentang" Xi atas kegagalan China mengendalikan produksi baja.
 
Pertemuan mereka menyusul perayaan 20 tahun kembalinya Hong Kong ke kekuasaan China pada 1 Juli 1997. Di malam ulang tahun, Beijing memalingkan muka dari bekas penguasa kolonial Hong Kong. 
 
Mereka menolak kesepakatan yang memastikan kembalinya wilayah tersebut ke China sebagai "dokumen sejarah" yang tidak lagi memiliki "signifikansi praktis atau kekuatan pengikat apapun".
 
Deklarasi bersama Sino-Inggris, yang diresmikan pada 1984, meletakkan sebuah cetak biru untuk pemerintahan Hong Kong pasca-penyerahan dan memberi jaminan dari China bahwa kebebasan dan cara memerintahnya akan tetap "tidak berubah" sampai 2047.
 
Para pegiat pro-demokrasi menuduh China 'mempermalukan' Pemerintah Inggris dengan upayanya menghapuskan perjanjian tersebut. China juga menyerang komentar dari Menteri Luar Negeri Boris Johnson di Hong Kong, yang mereka sebut 'keliru' dan 'masam'. 
 
Pemimpin protes Joshua Wong mengklaim bahwa London bereaksi 'secara pasif' terhadap erosi China atas kebebasan Hong Kong dengan menolak demokrasi asli kota semi otonom.
 
Pada Jumat, pemerintah Inggris diam-diam mengumumkan bahwa hal itu menyalahi kesepakatan bersama.



(FJR)