Kanselir Jerman Nilai Berita Hoax Ancam Demokrasi

Arpan Rahman    •    Kamis, 24 Nov 2016 22:43 WIB
politik jerman
Kanselir Jerman Nilai Berita <i>Hoax</i> Ancam Demokrasi
Kanselir Jerman Angela Merkel. (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Berlin: Kanselir Jerman Angela Merkel mengingatkan ancaman berbahaya dari berita "palsu" atau hoax dan troll (orang yang sengaja menyinggung atau mem-posting provokasi daring) terhadap demokrasi. Ia menyatakan opini publik saat ini sedang "dimanipulasi" di internet. 

Berbicara di parlemen Jerman, Bundestag, Merkel mengimbau partai-partai demokratis untuk menemukan cara "merangkul dan menginspirasi orang" dalam "menghadapi fenomena ini" dengan mengatur internet, jika memang diperlukan.

"Sesuatu telah berubah. Mana kala globalisasi telah menyebar, debat (politik) berlangsung di lingkungan media yang sama sekali baru. Opini tidak terbentuk dengan cara yang sama seperti 25 tahun lalu," Merkel mengatakan, The Local melaporkan, seperti dikutip IB Times, Kamis (24/11/2016).

"Hari ini kita memiliki situs palsu, bot (perangkat yang melaksanakan tugas secara otomatis di internet), troll -- peranti yang meregenerasi diri mereka sendiri, memperkuat pendapat dengan algoritma tertentu, dan kita harus belajar untuk berurusan dengan mereka," tambahnya.

Merkel, yang baru-baru ini mengumumkan akan mencalonkan diri untuk jabatan keempat sebagai Kanselir Jerman tahun depan, juga memperingatkan soal "populisme dan politik ekstrem yang berkembang di negara-negara demokrasi Barat".

Dia menyuarakan dukungannya demi menguatkan upaya dan cara-cara memerangi kebencian dalam berbagai bentuk. Awal bulan ini, sejumlah jaksa Jerman melancarkan penyelidikan terhadap beberapa eksekutif teratas Facebook, termasuk CEO Mark Zuckerberg, karena diduga melanggar undang-undang perkataan anti-kebencian nasional dan gagal menghapus konten yang mengandung pelecehan rasis, dukungan bagi kelompok teroris, ancaman kekerasan, dan penolakan Holocaust pada aplikasi ini.



"Saya percaya kita tidak boleh meremehkan apa yang terjadi dalam konteks internet dengan digitalisasi, ini adalah bagian dari realitas kita," kata Merkel. "Kita memiliki peraturan yang mengizinkan kebebasan pers, termasuk kebutuhan untuk uji kelayakan dari wartawan. Hari ini kita menemukan banyak media yang didasarkan pada pondasi yang sangat berbeda dan jauh tidak bisa diatur."

Komentar Merkel muncul di tengah perdebatan atas fenomena berita palsu secara daring dan mungkin mempengaruhi hasil pemilu Amerika Serikat baru-baru ini. Banyak yang berpendapat bahwa penyebaran berita palsu online, terutama melalui aplikasi media sosial seperti Facebook, memengaruhi peraihan suara dalam pilpres AS.

Media sayap kanan, Breitbart News Network, baru-baru ini mengumumkan rencana memperluas operasi di AS dan meluncurkan situs baru di Jerman dan Prancis menjelang pemilu, memicu kekhawatiran bergoyangnya potensi opini publik dan wacana politik di dua negara Eropa.

Pekan lalu, Presiden Barack Obama mengkritik maraknya pertumbuhan dan penyebaran berita palsu di internet. Ia menyebut "disinformasi aktif" yang dikemas dengan baik merupakan ancaman bagi demokrasi.

"Jika segala sesuatu tampaknya sama dan tidak ada perbedaan yang dibuat, maka kita tidak akan tahu apa yang harus dilindungi," kata Obama saat konferensi pers bersama Merkel di Berlin. 

"Kita tidak akan tahu apa yang harus diperjuangkan. Dan kita bisa kehilangan begitu banyak dari apa yang kita peroleh menurut sisi kebebasan demokratis dan ekonomi berbasis pasar serta kemakmuran yang telah kita berikan."


Hillary Clinton dan Donald Trump. (Foto: AFP)

Sebuah studi BuzzFeed belum lama ini menemukan bahwa berita palsu tentang pemilu AS mengungguli berita nyata di Facebook selama tiga bulan terakhir kampanye pemilihan presiden. Paul Horner, penulis di balik beberapa berita palsu online yang paling populer, baru saja mengklaim bahwa cerita-ceritanya mungkin telah membantu Trump memenangkan pilpres ke Gedung Putih.

Google dan Facebook mengumumkan rencana melarang situs jejaring yang memposting berita palsu yang memakai perangkat lunak iklan mereka dan menghasilkan pendapatan melalui aplikasi mereka.

Zuckerberg juga telah menjelaskan Facebook berencana mengatasi masalah berita palsu. Ia bilang "menggunakan informasi yang salah adalah persoalan serius" dan bekerja keras untuk menangani problem ini. Namun, dia menekankan bahwa "masalahnya sangat kompleks, baik secara teknis maupun filosofis."


(WIL)