Jerman Dikecam Terkait Kematian Tersangka Teror di Penjara

Arpan Rahman    •    Kamis, 13 Oct 2016 18:56 WIB
terorisme
Jerman Dikecam Terkait Kematian Tersangka Teror di Penjara
Jaber al-Bakr (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Leipzig: Kematian di sel penjara seorang pengungsi Suriah yang diduga merencanakan serangan bom di Jerman adalah skandal peradilan. Pernyataan itu dibeberkan pengacaranya.
 
Jaber al-Bakr, 22, gantung diri di penjara di Leipzig dengan kemejanya dan pemerintah telah dituntut mengadakan penyelidikan segera.
 
Pengacaranya mengatakan, penjara telah menyadarkan Bakr pada risiko bunuh diri setelah dia ditangkap, pada Senin 10 Oktober.
 
Namun, pemerintah daerah setempat mengatakan, dia tidak dianggap sebagai seorang penjahat berisiko tinggi. (Baca: Imigran Suriah Tersangka Teror di Jerman Bunuh Diri).
 
Sebastian Gemkow, menteri kehakiman di negara bagian timur Saxony, berkata kepada wartawan, penilaian psikologis tahanan telah dibuat dan langkah-langkah keamanan telah diambil. "Ini seharusnya tidak terjadi, tetapi hal itu terjadi," katanya, seperti dikutip BBC, Kamis (13/10/2016).
 
Pengacara yang membela Bakr, Alexander Huebner, menegaskan tersangka sudah merusak bola lampu dan merusak soket listrik.
 
"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanyanya, menunjukkan bahwa Bakr telah menolak makanan dan minuman. "Dia pasti tahanan yang paling dijaga ketat di Jerman," kata pengacara.
 
Para petugas penjara menolak laporan bahwa Bakr hanya diperiksa pada setiap jam, bersikeras ia mendapat pengawasan ketat, dengan interval 15 menit. "Mayatnya ditemukan pada pukul 19.45 waktu setempat pada Rabu 12 Oktober malam, dalam pemeriksaan rutin," kata petugas.
 
Namun muncul ketidakpercayaan di pemerintah federal Jerman. Menteri Urusan Keluarga, Manuela Schwesig, menulis tweet: "Apa yang terjadi?" 
 
Menteri Dalam Negeri, Thomas de Maiziere, menuntut "secepatnya penyelidikan komprehensif ". Dia mengatakan kepada TV Jerman, kematian Bakar di penjara telah membuat tugas menyelidiki alur rencana bom yang diduga akan menyasar bandara Berlin jauh lebih sulit.
 
Politisi Wolfgang Bosbach asal partai sayap kanan CDU mengatakan, kejadian itu adalah tragedi kehilangan sebuah sumber penting dari intelijen.
 
Pihak berwenang di negara bagian timur Saxony telah mengadakan pengarahan awal, pada Kamis 13 Oktober.
 
Politisi Burkhard Lischka yang memimpin partai sayap kiri SPD, menyalahkan otoritas Saxony atas kematian tersangka dalam tahanan dan mengatakan, bertahun-tahun soal kekurangan dana terus yang disalahkan.
 
Peledak buatan 
 
Jaber al-Bakr diberikan suaka setelah datang ke Jerman pada Februari 2015. Polisi Jerman telah mengamatinya selama berbulan-bulan atas dugaan terkait dengan kelompok jihad Islamic State (ISIS), namun gagal menangkapnya ketika mereka menggerebek flatnya pada Sabtu 8 Oktober.
 
Dia diserahkan ke polisi pada Senin 10 Oktober oleh tiga pengungsi Suriah lainnya setelah berada dalam pelarian selama dua hari. Meski secara luas dipuji sebagai pahlawan di Jerman, tiga warga Suriah lain itu rupanya terlibat dengan Bakr dalam alur rencana bom, media Jerman melaporkan, mengutip pejabat keamanan di Leipzig.
 
Ketika polisi menggerebek apartemennya di kota timur Chemnitz Sabtu dini hari, mereka menemukan 1,5 kg dari TATP, sebuah bahan peledak buatan yang digunakan dalam serangan jihad mematikan di Paris tahun lalu dan di Brussels Maret lalu. Bahan peledak yang "sangat berbahaya", kata polisi.
 
Tapi Bakr berhasil lolos dari penyergapan, dan pergi ke Leipzig, di mana ia meminta bantuan warga Suriah lain.
 
Ketiganya mengatakan kepada polisi, mereka telah mendengar tentang pencarian Bakr dan menawannya, sementara salah satu dari mereka memintanya menyerahkan diri. Mereka memberitahu polisi yang akhirnya berhasil menangkap Jaber al-Bakr.



(FJR)