Pilpres Prancis Makin Ketat Jelang Pemungutan Suara

Arpan Rahman    •    Sabtu, 15 Apr 2017 20:14 WIB
pemilu prancis
Pilpres Prancis Makin Ketat Jelang Pemungutan Suara
Pilpres Prancis makin ketat jelang pemungutan suara (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Paris: Pemilihan presiden Prancis tampak makin ketat dibandingkan semua pilpres sepanjang sejarah Prancis, pada Jumat 14 April. Sembilan hari jelang pemungutan suara, dua jajak pendapat menempatkan keempat calon presiden semuanya bisa menjadi dua kandidat yang maju ke putaran kedua.
 
Survei pemilih terbaru meningkatkan kekhawatiran investor tentang kemungkinan yang maju ke putaran kedua ialah kandidat sayap kanan Marine Le Pen menghadapi penantang sengitnya: calon sayap kiri Jean-Luc Melenchon.
 
Pilpres kali ini akan menjadi salah satu yang paling tak terduga dalam sejarah Prancis modern, manakala gelombang antikemapanan dengan perasaan dan frustrasi atas keterpurukan ekonomi Prancis telah memperlihatkan semakin banyak pemilih berpaling dari kubu mapan.
 
Sebuah jajak pendapat yang digelar Ipsos-Sopra Sterna menunjukkan kandidat independen berhaluan moderat Emmanuel Macron dan Le Pen meraup 22 persen di putaran pertama, 23 April. Sedangkan Melenchon dan calon konservatif Francois Fillon dengan masing-masing 20 dan 19 persen.
 
Selisih poin 3 persen yang memisahkan keempatnya dalam jajak pendapat dengan marjin kesalahan satu persen, menunjukkan persaingan tetap terbuka lebar.
 
Jajak pendapat secara konsisten menunjukkan Macron diperkirakan memenangkan putaran kedua, namun ia harus lolos terlebih dulu sebelum menuju pemungutan suara final, 7 Mei.
 
Tapi tren yang paling mencolok di hari terakhir telah melonjaknya dukungan telat bagi Melenchon, mantan tokoh beraliran Trotskyis yang akan menarik Prancis keluar dari NATO dan, seperti Le Pen, mungkin dari Uni Eropa juga.
 
Dalam jajak pendapat kedua, empat capres hanya berselisih tiga poin antara satu sama lain, seperti disebutkan lembaga survei BVA: "Semua skenario tetap terbuka untuk 23 April."
 
"Putaran kedua dengan Emmanuel Macron dan Marine Le Pen tetap menjadi hipotesis yang paling mungkin, tapi tidak ada yang mengecualikan Francois Fillon atau Jean-Luc Melenchon akan memenuhi syarat sebagai gantinya," kata BVA, seperti disitir Reuters, Sabtu 15 April 2017.
 
Jajak pendapat menunjukkan bahwa sekitar sepertiga dari 45,7 juta pemilih Prancis mungkin abstain. Sementara beberapa analis mengatakan, jumlah pemilih lebih tinggi akan mendukung Macron dan Fillon. Di sisi lain, BVA berkata bahwa Le Pen dan Melenchon juga bisa mendapat keuntungan bila pemilih muda dan kelas pekerja memberikan suara dalam jumlah tinggi.
 
Kemajuan Melenchon, dan kemungkinan konfrontasi antara pendiri partai "Prancis tanpa tuntutan" ini melawan Le Pen, telah mengkhawatirkan kalangan investor. Survei pemilih menunjukkan bahwa, kalau mencapai putaran kedua, Melenchon bisa menang melawan Fillon atau Le Pen.
 
Le Pen tidak akan memenangkan kursi presiden, siapa pun yang dia hadapi dalam putaran kedua, menurut jajak pendapat.
 
Para hakim Prancis -- yang menyelidiki dugaan penyalahgunaannya atas dana Uni Eropa buat membayar para asisten partai -- telah meminta kekebalan parlemen dicabut dari dirinya, kendati ancaman hukum terhadap Le Pen belum membahayakan posisinya dalam jajak pendapat seiring tuduhan nepotisme yang telah menggembosi kampanye Fillon.
 
Sebuah jajak pendapat ketiga yang diterbitkan Jumat menunjukkan selisih enam poin memisahkan empat kandidat di putaran pertama dari 11 calon lain. Survei tiap hari oleh Opinionway menempatkan Macron memimpin dengan 23 persen dan Melenchon tertinggal dengan 17 persen.



(FJR)