Divonis Penjara, Penjahat Perang Bosnia Meminum Racun

Fajar Nugraha    •    Kamis, 30 Nov 2017 11:16 WIB
Divonis Penjara, Penjahat Perang Bosnia Meminum Racun
Slobodan Praljak sempat dilarikan ke rumah sakit, setelah dirinya meminum cairan diduga racun (Foto: AFP).

Den Haag: Penjahat perang Bosnia menenggak racun di hadapan pengadilan kriminal PBB, setelah persidangan menetapkan 20 tahun penjara atas tindakan kejahatan selama konflik Balkan.
 
Slobodan Praljak sempat dilarikan ke rumah sakit, setelah dirinya meminum cairan yang diduga sebagai racun. Pria berusia 72 tahun itu tampak mengangkat sebuah botol kecil berwarna cokelat di dalam ruang Pengadilan Kriminal Internasional bekas Yugoslavia (ICTY) di Belanda.
 
Drama mengejutkan ini terjadi ketika hakim membacakan vonis terakhir di pengadilan itu. Mereka membacakan vonis dari enam kasus banding dari para pemimpin politik dan militer Bosnia Kroasia.
 
Sebagai mantan komandan militer negara pecahan Yugoslavia, Praljak marah besar ketika vonisnya dibacakan. "Praljak bukan kriminal. Saya menolak vonis kalian," tegas Praljak, seperti dikutip AFP, Kamis 30 November 2017.
 
Berdiri tegak, Praljak kemudian mengangkat botol kecil dan meminum cairan yang ada di dalamnya. Sidang kemudian ditunda ketika pengacara Praljak menyebutkan: "Klien saya meminum racun."
 
Pihak ICTY pun memberikan komentar atas insiden ini. "Setelah vonis dibacakan, Praljak meminum semacam cairan dan kemudian jatuh sakit," tutur Juru Bicara ICTY, Nenad Golcevski.
 
Tim medis darurat pun langsung bergegas ke ruangan pengadilan untuk memberikan bantuan. "Kemudian dia dibawa ke rumah sakit dan akhirnya dinyatakan meninggal," imbuh Golcevski.
 
Sementara ruang pengadilan saat ini diamankan sebagai tempat kejadian perkara oleh penyelidik Belanda. 
 
Pertanyaan muncul mengapa Praljak bisa menyusupkan botol itu ke dalam ruang pengadilan yang ketat. Jika benar cairan itu adalah racun, bagaimana Praljak bisa mendapatkannya di ruang penahanan PBB di Den Haag.
 
Kejadian ini memicu keterkejutan di Kroasia dan tentunya memberikan sorotan kelam atas jalannya persidangan ICTV yang sukses. ICTY ini akan tutup Desember mendatang, setelah dua dekade dibuka sebagai puncak dari konflik Bosnia yang berlangsung 1992-1995.

(FJR)