Kepercayaan Rusia pada Putin Jatuh ke Titik Terendah

Arpan Rahman    •    Jumat, 25 Jan 2019 06:43 WIB
vladimir putin
Kepercayaan Rusia pada Putin Jatuh ke Titik Terendah
Popularitas Presiden Rusia Vladimir Putin dikabarkan menurun drastis. (Foto: AFP).

Moskow: Kepercayaan Rusia terhadap Presiden Vladimir Putin jatuh ke level terendah sejak 2006, turun lebih dari 33 persen. Hal ini disebutkan dalam jajak pendapat baru-baru ini yang dilakukan oleh Public Opinion Research Center yang dikelola Pemerintah Rusia.

Keyakinan pada pemerintah Putin turun 33,4 persen pekan lalu di tengah pertumbuhan ekonomi yang lamban, penurunan pendapatan yang terpakai, dan kenaikan yang sangat tidak populer di usia pensiun.

Tingkat kepercayaan berada pada 71 persen pada Juli 2015 setelah Rusia mencaplok Krimea milik Ukraina.

Survei lain oleh lembaga survei independen yang berbasis di Moskow, Levada Center pada Desember 2018 menunjukkan bahwa 53 persen responden tidak setuju dengan Pemerintah Rusia. Namun, Putin memiliki peringkat persetujuan keseluruhan sekitar 63 persen, turun dari 89 persen pada Juni 2015, menurut Levada Center.

"Kami tahu Kremlin menganggap angka-angka ini dengan sangat serius, jadi kami harus memperhatikan mereka," Ben Noble, dosen politik Rusia di University College London, mengatakan kepada Al Jazeera.

Ketika Putin berkuasa di tengah gejolak ekonomi pada 1998, ia menjanjikan kondisi kehidupan yang lebih baik dan gaji layak bagi warga Rusia, dengan imbalan kebebasan berekspresi -- sebuah kontrak sosial.

Mathieu Boulegue, peneliti Rusia dan Eurasia di lembaga intelektual Chatham House, berkata: "Sistem Rusia tidak dapat lagi memberi kontrak sosial yang secara implisit ditawarkan kepada penduduk ketika Putin berkuasa."

"Putin berjanji membuat Rusia hebat lagi (setelah krisis)," kata Boulegue. "Untuk membuatnya bangkit dari abu Uni Soviet dan menjadi kekuatan besar kembali dengan menyuarakan keprihatinan Rusia di arena internasional, sesuai gaya Rusia," cetusnya, seperti disitat dari laman Al Jazeera, Jumat 25 Januari 2019.

Tetapi keterlibatan negara itu dalam perang yang sedang berlangsung di Suriah, dan konflik yang membara di Ukraina menimbulkan harga yang sangat besar bagi standar hidup penduduk.

Sejak 2014, pendapatan terpakai telah menurun dan diperkirakan akan turun lebih lanjut tahun ini, menurut Sekolah Tinggi Ekonomi di Moskow. Setelah meningkat sebesar 1,7 persen tahun lalu, produk domestik bruto Rusia diperkirakan tumbuh sebesar 1,4 persen pada 2019, menurut jajak pendapat Reuters.

Kebijakan luar negeri Rusia membutuhkan biaya politik yang sangat besar. Hampir lima tahun sanksi Amerika Serikat dan Uni Eropa diberlakukan menyusul pencaplokan Krimea oleh Moskow menempatkan sejumlah bisnis besar di bawah tekanan yang meningkat.

Harapan sanksi dicabut tahun ini sudah lenyap sejak Rusia menangkap tiga kapal Ukraina di lepas pantai Krimea, November lalu. Uni Eropa telah memperpanjang sanksi yang menargetkan sektor pertahanan, energi, dan perbankan Rusia hingga pertengahan 2019, dan saat ini ada diskusi di AS tentang menjatuhkan lebih banyak sanksi.

Menurut Noble, sementara banyak orang Rusia sebelumnya terkait masalah dengan politisi di sekitar Putin, orang-orang sekarang mulai mengasosiasikan kesusahan lebih dekat dengan Putin karena ia telah menjadi wajah dari kebijakan ini.

Boulegue menambahkan bahwa pemerintah akan menawarkan ‘kemenangan kecil’ dan memperkuat mereka secara federal untuk menunjukkan kepada penduduk bahwa segala sesuatunya berubah.

"Akan ada prestasi kecil di luar negeri, dengan retorika perang melawan Barat. Ini satu-satunya hal yang dapat ditawarkan Rusia karena tidak dapat menawarkan perubahan atau reformasi yang komprehensif, dan tentu saja tidak dapat menawarkan perubahan sistemik," kata Boulegue.


(FJR)