Macron Kecam Kekerasan Ekstrem Demonstran Rompi Kuning

Arpan Rahman    •    Senin, 07 Jan 2019 11:19 WIB
prancispolitik prancisEmmanuel Macron
Macron Kecam Kekerasan Ekstrem Demonstran Rompi Kuning
Demonstran rompi kuning membawa spanduk bertuliskan Macron di Penjara dalam unjuk rasa di Lille, Prancis, 5 Januari 2019. (Foto: AFP/PHILIPPE HUGUEN)

Paris: Demonstrasi 'Rompi Kuning' yang berlanjut untuk kesekian kalinya di Paris berubah menjadi bentrokan berdarah antara pengunjuk rasa dengan pasukan keamanan. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam keras bentrokan tersebut, yang disebutnya sebagai "kekerasan ekstrem."

Dalam unjuk rasa pekan kedelapan pada Sabtu 5 Januari, para demonstran yang mengenakan rompi kuning -- benda wajib bagi semua pengendara di Prancis -- kembali turun ke jalanan Paris dan beberapa kota lainnya. Mereka mengecam tingginya harga kebutuhan hidup di Prancis dan juga mendorong agar Macron mengundurkan diri.

Kementerian Dalam Negeri Prancis mengatakan unjuk rasa terbaru diikuti sekitar 50 ribu orang di seantero negeri. Jumlahnya bertambah dari 32 ribu pada Sabtu pekan kemarin.

"Sekali lagi, kekerasan ekstrem telah menyerang republik ini. Kekerasan menyerang pasukan keamanan, para wakil rakyat, simbol-simbol negara," tulis Macron di Twitter.

"Mereka yang melakukan aksi kekerasan tersebut telah lupa terhadap pakta sipil kita. Keadilan harus ditegakkan. Semua orang harus menahan diri dan bersiap untuk debat dan dialog," lanjut dia, seperti dinukil dari Financial Times, Minggu 6 Januari 2019.

Baca: Erdogan: Demo Rompi Kuning Prancis Kegagalan Eropa

Mendagri Prancis Christophe Castaner mengatakan sekitar 56.500 personel keamanan telah dikerahkan untuk menanggulangi aksi kekerasan dalam unjuk rasa terbaru. "Demonstrasi ini tidak mewakili Prancis, karena ada beberapa provokasi dan serangan," tegas dia.

Sementara Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire meminta masyarakat Prancis yang meyakini nilai-nilai demokrasi untuk bersama-sama menyerukan agar demonstrasi berujung kekerasan ini dihentikan. "Ada kekuatan yang ingin menjatuhkan demokrasi kita," sebut dia.

Awalnya unjuk rasa rompi kuning dipicu kekecewaan rencana penaikan pajak bahan bakar minyak. Namun saat rencana penaikan itu ditunda, unjuk rasa tetap berlanjut hingga saat ini.



(WIL)