Partai Presiden Prancis Incar Kuasai Kursi Parlemen

Arpan Rahman    •    Sabtu, 17 Jun 2017 19:20 WIB
politik prancis
Partai Presiden Prancis Incar Kuasai Kursi Parlemen
Presiden Prancis Emmanuel Macron ingin meningkatkan representasi partai-partai kecil di parlemen. (Foto: Reuters).

Metrotvnews.com, Paris: Pemerintahan baru Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan kembali rencananya untuk meningkatkan representasi partai-partai kecil di parlemen. Penegasan itu muncul di saat partainya diprediksi menjadi mayoritas dalam limpasan akhir pekan ini, sedangkan kemungkinan jumlah pemilih turun.
 
Tiga jajak pendapat jelang pemilihan legislatif putaran kedua, Minggu 18 Juni 2017, mengindikasikan bahwa partai moderat En Marche! pimpinan presiden yang baru berusia satu tahun akan memenangkan 80 persen atau lebih dari kursi di majelis rendah.
 
Itulah prediksi tertinggi dari kampanye sampai kini.
 
Para seteru Macron, yang masih terpukul oleh kemenangan presidennya lebih dari sebulan yang lalu, memperingatkan bahwa mayoritas di sebuah negara dengan perpecahan politik yang kentara dan mendalam merupakan ancaman bagi demokrasi.
 
Bila En Marche! mendominasi parlemen, maka akan menjadi yang terbesar dalam beberapa dekade daripada partai manapun. Kendati hanya mengumpulkan sekitar sepertiga suara di babak pertama.
 
Partisipasi pemilih sedikit
 
Lebih dari separuh pemilih sudah tidak memberikan suara, dan banyak yang mengatakan bahwa mereka tidak melihat manfaatnya bersuara. Jajak pendapat terbaru mengindikasikan bahwa akan lebih sedikit lagi yang memilih di putaran akhir.
 
Sistem pemungutan suara dua putaran Prancis, digunakan dalam semua jenis pemilu -- termasuk kontes presiden yang menahbiskan Macron berkuasa. Syaratnya mengeliminasi para kandidat dengan skor rendah setelah putaran pertama.
 
Berkat sistem ini, dan sejumlah pakta elektoral yang bertujuan mempertahankan kandidat Front National ekstrim-kanan keluar dari parlemen, FN tampaknya hanya mendapatkan beberapa kursi di Majelis Nasional. Walaupun pemimpinnya, Marine Le Pen, memeroleh dukungan dari sepertiga pemilih dalam pemilihan presiden.
 
Beberapa survei menunjukkan bahwa dia mungkin satu-satunya anggota FN di majelis beranggota 577 kursi. Anggota parlemen sayap kiri dan ultra-kiri juga diperkirakan jumlahnya sedikit.
 
"Kami akan meminta parlemen biar menangani masalah ini," kata menteri teknologi Mounir Mahjoubi di televisi Prancis 2.
 
"Dengan memperkenalkan takaran perwakilan proporsional, partai-partai yang mendapat nilai (rendah) akan memiliki lebih banyak perwakilan. Itu akan lebih adil, dan terutama itu akan mempertajam debat," cetusnya, seperti dikutip The Independent dari Reuters, Sabtu 17 Juni 2017.
 
Unggul dalam poling
 
Poling oleh Opinionway dan Harris Interactive pada Kamis 15 Juni memproyeksikan En Marche! dan sekutu sayap kanannya Modem menang antara 440 dan 470 kursi di majelis rendah. Mayoritas tidak berlaku sejak presiden konservatif Charles de Gaulle mengambil alih 80 persen kursi pada 1968.
 
Sebuah jajak pendapat oleh Odoxa yang diterbitkan pada Jumat, hari terakhir kampanye, menempatkan mereka pada 430 hingga 460 kursi.
 
Macron telah berjanji mendorong reformasi perburuhan pro-bisnis yang melampaui keterlibatannya sebagai menteri ekonomi di pemerintahan Sosialis pada 2012 sampai 2017.
 
Meskipun proposal tersebut merupakan bagian dari daya tariknya terhadap pemilih yang lebih luas, dan disambut di kalangan bisnis Prancis, namun sangat tidak populer dengan beberapa kalangan masyarakat yang takut akan menggerus hak-hak pekerja.
 
Kontroversi mengenai masalah tersebut mengakibatkan pemogokan dan demonstrasi jalanan tahun lalu, mencabik partai Sosialis yang berkuasa saat itu. Imbasnya mewujudkan keterpurukan partai tersebut di pemilu, tahun ini.
 
Jean-Luc Mélenchon, kandidat ultra-kiri yang didukung oleh seperlima pemilih dalam pilpres, ditetapkan menjadi salah satu dari sedikit anggota parlemen berhaluan kiri yang duduk di parlemen baru.
 
Pada Jumat, katanya, Macron seharusnya tidak mengharapkan perjalanan yang mudah.
 
"Jika Anda yakin para pekerja di negara ini dan pegawai yang digaji para umumnya akan tertipu hanya karena semua majalah kemilau telah menerbitkan foto senyuman pangeran muda (Macron), Anda sedang bermimpi," katanya di radio Eropa 1.
 
"Ini betapapun juga adalah Prancis, dengan satu setengah abad perjuangan untuk hak-hak yang tercantum dalam undang-undang buruh tidak akan terhapuskan dengan serangan sebilah pena. Akan ada perlawanan," pungkasnya.



(FJR)