Jelang Referendum, 3 Warga Catalan Terluka Akibat Tembakan Senapan Angin

Fajar Nugraha    •    Sabtu, 30 Sep 2017 17:08 WIB
referendum catalunya
Jelang Referendum, 3 Warga Catalan Terluka Akibat Tembakan Senapan Angin
Referendum di Catalunya akan dilangsungkan pada Minggu 1 Oktober 2017 (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Manlleu: Ketegangan makin terasa menjelang referendum Catalunya, di Spanyol. Tiga orang dilaporkan terluka akibat tembakan senapan angin.
 
Pihak Kepolisian Catalan, Mossos, mengonfirmasi kejadian ini kepada The Spain Report, Sabtu 30 September 2017.
 
"Senjata yang digunakan memiliki kaliber kecil. Polisi saat ini tengah melakukan penyelidikan terbuka," ujar seorang juru bicara kepolisian Catalan, kepada The Spain Report.
 
Hingga saat ini belum diketahui siapa yang melepaskan tembakan tersebut. Namun mereka memperkirakan senjata yang digunakan serupa dengan senjata di taman bermain.
 
Foto yang beredar di internet menunjukkan dua orang berbeda yang menderita luka di bagian leher dan dada.
 
Diketahui, mereka yang menderita luka berada di sebuah sekolah. Sekolah itu sedang diupayakan sebagai tempat pemungutan suara referendum Catalan yang ingin lepas dari Spanyol. Referendum akan dilaksanakan pada Minggu 1 Oktober 2017, besok waktu setempat.
 
Sebelumnya pada Jumat 29 September 2017, puluhan ribu orang hadir dalam protes akhir menjelang referendum. Presiden wilayah Catalunya Carles Puigdemont mengatakan kepada massa, bahwa Catalunya akan mengambil langkah pertama menuju negara yang berdaulat. 
 
 
Kepolisian Spanyol juga mengerahkan ribuan petugas tambahan di Spanyol, di saat pemerintah pusat berupaya untuk menghentikan pemungutan suara. Bahkan Google sudah menghapus sebuah aplikasi yang digunakan untuk mengarahkan warga ke lokasi tempat pemungutan suara.
 
Sebagai wilayah di timur laut Spanyol yang kaya dan memiliki populasi hingga 7,5 juta jiwa, Catalunya memiliki bahasa dan budayanya sendiri. Selama ini bagian dari Spanyol tersebut memiliki otonomi yang sangat luas dan tidak diakui sebagai wilayah terpisah dari Spanyol.
 
Tekanan untuk memisahkan diri dari Spanyol sudah meningkat tinggi sejak lima tahun terakhir. Tetapi ketika pemilu daerah pada 2015, sekitar 40 persen pemilih mendukung partai yang loyak terhadap Spanyol. Meskipun saat itu pemilu tersebut dimenangkan oleh aliansi partai yang pro-kemerdekaan.



(FJR)