NATO: Aktivitas Rusia di Eropa Lampaui Level Perang Dingin

Willy Haryono    •    Senin, 10 Apr 2017 15:27 WIB
krisis suriah
NATO: Aktivitas Rusia di Eropa Lampaui Level Perang Dingin
Kapal perang Rusia, Admiral Grigorovich, berlayar di perairan Turki menuju Laut Mediterania, 7 April 2017. (Foto: Reuters)

Metrotvnews.com, Brussels: Aktivitas angkatan laut Rusia di Eropa kini telah melewati level semasa Perang Dingin, ungkap seorang pejabat militer Amerika Serikat dan perwira tinggi NATO. 

Laksamana Michelle Howard khawatir aktivitas semacam itu berpotensi "memecah" aliansi transatlantik. 

"Kami melihat aktivitas yang kami belum pernah lihat sewaktu era Uni Soviet. Ini adalah aktivitas yang belum pernah terjadi sebelumnya," ucap kepala Komando Gabungan NATO di Naples dan Komandan Angkatan Laut AS di Eropa dan Afrika kepada Reuters, Minggu 9 April 2017. 

"Mereka adalah angkatan laut global, kami memahami itu. Tapi aktivitas di panggung ini terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir," sambung dia. 

Tahun lalu, Rusia mengerahkan satu-satunya kapal induk mereka, Admiral Kuznetsov, ke pesisir Suriah untuk melancarkan misi pengeboman terhadap grup oposisi dan kelompok militan Islamic State (ISIS). 

Pekan kemarin, Moskow mengirim Admiral Grigorovich ke pelabuhan Tartus di Suriah, yang juga tempat berdirinya sebuah pangkalan laut Rusia. 

Howard mengatakan Rusia juga meningkatkan patroli di Atlantik utara dan Arktika, serta mengerahkan sejumlah kapal selam di Laut Hitam. 

Komentar Howard sesuai dengan pernyataan Laksamana Rusia Vladimir Korolev, yang mengatakan kepada media lokal bahwa patroli kapal selam negaranya telah mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak era Perang Dingin. 

Pernyataan Howard dilontarkan saat AS dan Rusia bersitegang atas dugaan serangan kimia yang menewaskan 86 orang di provinsi Idlib, Suriah. AS meluncurkan 59 misil tomahawk ke sebuah pangkalan udara Suriah, yang disebut sebagai pusat operasi peluncuran senjata kimia di kota Khan Sheikhun pada 4 Maret.

Sementara Rusia menegaskan serangan kimia bukan didalangi pasukan Suriah, melainkan berasal dari kebocoran gas dari gudang berisi bahan kimia milik kelompok oposisi yang hancur terkena serangan udara.


(WIL)