Kebakaran di Kokpit Penyebab Kecelakaan EgyptAir pada 2016

Arpan Rahman    •    Minggu, 08 Jul 2018 20:09 WIB
kecelakaan pesawategyptair
Kebakaran di Kokpit Penyebab Kecelakaan EgyptAir pada 2016
Pesawat maskapai EgyptAir. (Foto: AFP/KHALED DESOUKI)

Paris: Api di bagian kokpit kemungkinan menjadi penyebab kecelakaan fatal EgyptAir Flight MS804. Insiden yang terjadi pada 2016 itu menewaskan 66 orang.

EgyptAir dengan nomor penerbangan MS804 kala itu sedang dalam perjalanan dari Paris menuju Kairo, dan tiba-tiba dilaporkan jatuh di Laut Mediterania pada 19 Mei 2016. Total 66 orang yang ada di dalamnya meninggal dunia.

Laporan baru dari investigator Biro Penyelidik dan Analisis Keamanan Sipil Perancis (BEA) menyebut bahwa kotak hitam pesawat dianalisis dua bulan setelah kecelakaan.

Pilot tidak mengeluarkan panggilan darurat saat itu, dan tidak ada pihak manapun yang bertanggung jawab atas jatuhnya pesawat.

BEA menemukan fakta bahwa alat perekam penerbangan berhenti beroperasi ketika pesawat sedang terbang di ketinggian 11.277 meter. Suara para kru terdengar dari alat perekam, yang menyebutkan adanya api dalam kokpit.

Baca: EgyptAir MS804 Hilang setelah Masuk Zona Udara Mesir

"Hipotesis yang paling mungkin adalah bahwa kebakaran terjadi di kokpit ketika pesawat terbang di ketinggian itu, dan bahwa api menyebar dengan cepat sehingga mengakibatkan hilangnya kendali," kata siaran berita BEA, seperti dilansir dari UPI, Minggu 8 Juli 2018.

Temuan baru ini bertentangan dengan laporan pada Desember 2016 dari Mesir, yang menyebutkan adanya jejak bahan peledak terkait aksi kejahatan. Setelah menyimpukan adanya unsur sabotase, Mesir menyerahkan penyelidikan kepada otoritas yudisial.

Mesir tidak mempublikasikan laporan akhir dari kecelakaan ini.

"BEA menganggap perlu adanya laporan akhir demi menelaah kemungkinan penyebab kecelakaan dan menginformasikan komunitas penerbangan mengenai pelajaran berharga soal keselamatan yang dapat mencegah kecelakaan di masa mendatang," kata BEA.

Badan itu menambahkan pihaknya siap berkolaborasi dengan Mesir jika memutuskan memulai kembali kembali penyelidikan.



(WIL)