Menlu Inggris Dorong Protes di Kedubes Rusia, Kecaman Mengalir

Arpan Rahman    •    Rabu, 12 Oct 2016 19:43 WIB
krisis suriah
Menlu Inggris Dorong Protes di Kedubes Rusia, Kecaman Mengalir
Menlu Inggris Boris Johnson (Foto: PA)

Metrotvnews.com, Moskow: Rusia mengecam seruan Menteri Luar Inggris Boris Johnson untuk melakukan demonstrasi di luar Kedutaan Rusia di London. Negeri Beruang Merah menilai seruan itu sebagai tindakan memalukan.
 
 
Tapi Moskow, yang menyangkal klaim itu, menuduhnya mengalami "histeria Russofobia (ketakutan berlebihan kepada Rusia)".
 
Terpisah, Koalisi Stop Perang mengatakan protes di Inggris tidak akan "mengaburkan sedikit perbedaan".
 
Kota Aleppo di utara Suriah telah menjadi medan pertempuran paling dahsyat dalam perang saudara lima tahun di negara itu.
 
Sebuah konvoi bantuan PBB diserang dari udara bulan lalu -- suatu tindakan secara luas telah menjatuhkan kesalahan pada Rusia, sekutu Presiden Bashar al-Assad.


Konvoi bantuan yang diserang di Suriah (Foto: AFP)
 
 
Dalam perdebatan darurat Parlemen, pada Selasa 11 Oktober, Johnson menyerukan mereka yang bertanggung jawab atas serangan terhadap konvoi dan rumah sakit di Aleppo untuk menghadapi persidangan di Pengadilan Kriminal Internasional.
 
Dikatakannya, Rusia mempertaruhkan risiko untuk menjadi negara firaun. Seraya menyebutkan, anggota parlemen pemerintah Inggris telah mengambil alih pimpinan dalam meningkatkan kesadaran akan situasi di Suriah.
 
"Tidak ada horor yang setara, menurut saya, di antara beberapa protes kelompok anti-perang," tambahnya. 
 
"Saya pasti ingin melihat demonstrasi di luar kedutaan Rusia. Di mana posisi Koalisi Stop Perang saat ini? Di mana mereka?" seru Johnson.
 
Pemerintah Rusia telah bereaksi dengan marah. Juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Mayor Jenderal Igor Konashenkov, mengatakan: "Histeria Russofobia dengan teratur melecut berbagai anggota pemerintahan Inggris dalam waktu yang lama, sekarang telah cukup mengecewakan".
 
"Karena itu, ada kegaduhan yang mencekam. Boris Johnson, yang menuduh Rusia melakukan setiap dosa yang mematikan, adalah sebuah badai di cangkir teh penuh air dalam lumpur London," kata Konashenkov.
 
Jumlah kehancuran
 
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Maria Zakharova mengatakan kepada kantor berita Interfax, Rabu (12/10/2016): "Sudah jelas sekarang apa yang dimaksud Boris Johnson ketika dia mengatakan bahwa senjata yang digunakan Barat melawan Rusia adalah rasa malu. Pernyataan yang dia buat saat menyerukan protes di depan kedutaan Rusia adalah rasa malu. Ini sangat memalukan."
 
"Sangat memalukan karena alasan sederhana bahwa sekarang menjadi jelas siapa yang berada di belakang apa yang disebut organisasi dan gerakan sosial dan perwakilan dari masyarakat sipil yang mendatangi kedutaan Rusia pada kesempatan yang berbeda," ujar Zakharova. 
Serangan udara di Aleppo berlanjut, pada Selasa 11 Oktober, mengakibatkan setidaknya 50 orang dilaporkan tewas.
 
PBB telah memperingatkan bahwa Aleppo timur, di mana 275.000 orang diperkirakan masih hidup, bisa menghadapi "kehancuran total" dalam waktu dua bulan.
 
Pekan lalu, Rusia memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang disusun oleh Perancis menyerukan untuk mengakhiri pemboman di kota itu.
 
Wakil ketua Koalisi Stop Perang, Chris Nineham, mengatakan kepada program Radio 4's Today BBC, kelompok itu tidak akan mengatur demonstrasi di luar kedutaan Rusia di London.
 
Sir John Sawers, mantan kepala badan intelijen MI6, memperingatkan Johnson harus waspada kalau menyerukan demonstrasi di London. Dia mendesak Johnson untuk "mengingat kembali" penyerbuan dan pendudukan Kedutaan Besar Inggris oleh demonstran di Iran pada 2011.
 
"Saya tidak berpikir itu akan terjadi di Moskow, tetapi Anda harus berhati-hati tentang konsekuensi dari apa yang Anda serukan," pungkas Sawers.



(FJR)

Santiago De Cuba Bersiap untuk Pemakaman Fidel Castro

Santiago De Cuba Bersiap untuk Pemakaman Fidel Castro

5 hours Ago

Proses pemakaman untuk tokoh revolusi Kuba, Fidel Castro mulai dipersiapkan di kota terbesar kedua…

BERITA LAINNYA