Putin Sebut Masalah Korut Sulit Diatasi tanpa Dialog

Arpan Rahman    •    Kamis, 07 Sep 2017 06:18 WIB
rudal korut
Putin Sebut Masalah Korut Sulit Diatasi tanpa Dialog
Presiden Rusia Vladimir Putin. (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Vladivostok: Mengatasi krisis nuklir Korea Utara (Korut) tidak mungkin dengan sanksi dan tekanan saja, kata Presiden Rusia Vladimir Putin usai bertemu dengan mitranya dari Korea Selatan (Korsel), Rabu 6 September. Presiden Rusia itu sekali lagi mendesak diadakannya dialog untuk mencapai kemajuan.

Putin bertemu Presiden Korsel Moon Jae-in di sela-sela pertemuan puncak ekonomi di kota Vladivostok, timur jauh Rusia. Di tengah meningkatnya kekhawatiran internasional bahwa negeri tetangga mereka itu merencanakan lebih banyak tes senjata. Kemungkinan peluncuran rudal jarak jauh menjelang akhir pekan.

Putin mengecam Pyongyang untuk kali keenam dan tes bom nuklir terbesar pada akhir pekan kemarin, dengan mengatakan bahwa Rusia tidak mengakui status nuklir Korut.

"Program rudal dan nuklir Pyongyang adalah pelanggaran terang-terangan terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB, merongrong rezim non-proliferasi, dan menciptakan ancaman terhadap keamanan di Asia timur laut," kata Putin dalam sebuah konferensi pers bersama Jae-in.

"Pada saat yang sama, jelas bahwa tidak mungkin menyelesaikan masalah Semenanjung Korea hanya dengan sanksi dan tekanan," katanya, seperti dilansir Reuters, Rabu 6 September 2017.

Tidak ada kemajuan yang bisa dibuat tanpa campur tangan politik dan diplomatik, lanjut Putin.

Moon dari Korsel telah mendapat tekanan yang meningkat untuk mengambil kebijakan garis keras atas Korut. Sejak berkuasa, awal tahun ini, Moon mengadvokasi sebuah kebijakan untuk melakukan pembicaraan dengan Pyongyang.

Dia dan Putin "berbagi saling pengertian bahwa menyelesaikan masalah Korut adalah prioritas utama," kata Moon kepada wartawan.

Moon sudah minta PBB mempertimbangkan sanksi baru yang ketat terhadap Korut setelah uji coba nuklir terbaru. Dia mengatakan bahwa pasokan minyak yang lancar ke Utara akan diputus, dan diharapkan Putin bisa bekerja sama mengenai hal tersebut.



(WIL)