Pengadilan HAM Eropa Sebut Rusia Gagal Cegah Pembantaian di Beslan

Arpan Rahman    •    Kamis, 13 Apr 2017 20:11 WIB
rusia
Pengadilan HAM Eropa Sebut Rusia Gagal Cegah Pembantaian di Beslan
Sekolah di Beslan yang muridnya disandera oleh penculik (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Strasbourg: Pengadilan Eropa untuk Hak Asasi Manusia (ECHR) telah memutuskan bahwa Rusia gagal mencegah pengepungan sekolah di Beslan pada 2004, di mana lebih dari 330 orang meninggal.
 
Operasi untuk mengakhiri pengepungan, menggunakan senjata berat, dan disusul penyelidikannya juga telah dikritik. Dalam pengepungan, pemberontak Chechnya menyekap lebih dari 1.000 sandera, sebagian besar anak-anak.
 
Penyekapan berakhir ketika pasukan Rusia menyerbu gedung. "Pasukan memakai kekerasan yang berlebihan," cetus ara korban yang selamat, seperti dilansir BBC, Kamis 13 April 2017.
 
Tidak ada seorang pun pejabat Rusia telah bertanggung jawab atas tingginya jumlah kematian, yang termasuk 186 anak-anak.
 
Apa yang Terjadi di Beslan?
 
Sekelompok pria dan wanita bertopeng, mengenakan sabuk bom, menyerbu ke dalam sekolah, membuka tembakan di halaman selagi upacara yang menandai awal tahun ajaran baru saja selesai.
 
Para sandera disekap dalam ruang olahraga sekolah mereka dikelilingi bahan peledak yang dirangkai dari keranjang basket. Para penculik menuntut pasukan Rusia mundur dari Chechnya.
 
Pengepungan menegangkan berakhir tiba-tiba di hari ketiga dengan dua ledakan mematikan dan letusan tembakan. Saksi menggambarkan operasi oleh pasukan keamanan Rusia amat kacau, katanya, pasukan menggunakan kekerasan yang berlebihan dan senjata berat. Hanya satu dari para penyandera yang tertangkap hidup-hidup dan diadili.
 
Siapa yang Selamat dan Apa yang Kata Kerabat?
 
Selama lebih dari satu dekade, para korban dan kerabatnya telah menanyakan apakah pengepungan itu dapat dicegah dan apakah begitu banyak orang harus mati dalam operasi penyelamatan.
 
Mereka mengatakan para pejabat, termasuk Presiden Vladimir Putin, keliru penanganan krisis sandera dan mengabaikan laporan intelijen yang menunjukkan bahwa skenario penyanderaan telah direncanakan.
 
Sebuah penyelidikan Rusia ke dalam peristiwa itu terhenti beberapa tahun lalu. Lebih dari 400 penyidik diadukan ke Pengadilan HAM Eropa.
 
Apa yang Diputuskan Pengadilan?
 
Pengadilan berbasis di Strasbourg diselenggarakan oleh Dewan Eropa (CoE), badan hak asasi manusia pan-Eropa, di mana Rusia adalah anggotanya. CoE ini menjadi entitas yang berbeda dan bukan merupakan cabang dari Uni Eropa.
 
Pendiriannya bertujuan untuk menerapkan dan demi melindungi hak-hak sipil dan politik warga negara Benua Biru.
 
Dikatakan, Rusia memiliki informasi spesifik yang cukup baik bahwa serangan sedang direncanakan ke sekolah itu, namun gagal mengambil langkah-langkah mencegahnya.
 
Juga disebutkan "senjata berat seperti tank meriam, peluncur granat, dan penyembur api" telah digunakan di sekolah, hingga berkontribusi atas tingginya jumlah korban.
 
Seluruh negara anggota harus mematuhi putusan pengadilan, meskipun pengadilan tidak dapat langsung memberlakukan keputusan ini.



(FJR)