Rusia dan Jerman Khawatir atas Ketegangan AS dengan Korut

Arpan Rahman    •    Minggu, 13 Aug 2017 12:20 WIB
korea utaranuklir korea utara
Rusia dan Jerman Khawatir atas Ketegangan AS dengan Korut
Kanselir Jerman Angela Merkel berjabat tangan dengan Menlu Rusia Sergey Lavrov di Munich, 18 Februari 2017. (Foto: AFP/THOMAS KIENZLE)

Metrotvnews.com, Moskow: Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan Moskow "sangat khawatir" atas perang kata-kata antar Amerika Serikat dengan Korea Utara. 

Ia menyarankan Washington mengambil langkah untuk menurunkan ketegangan. 

"Ketika pertarungan hampir pecah, langkah pertama menjauh dari ambang berbahaya harus diambil oleh pihak yang lebih kuat dan lebih cerdas," kata Lavrov.

Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan bahwa diplomasi adalah jawabannya.

"Jerman akan sangat intensif mengambil bagian dalam pilihan resolusi yang bukan militer tapi saya menganggap eskalasi lisan menjadi respon yang salah," katanya seperti dilansir AFP, Sabtu 12 Agustus 2017.

Hampir sepekan lalu, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mengeluarkan sanksi baru atas Pyongyang mengenai program senjata. Termasuk larangan ekspor, sebuah hukuman baru yang dapat merugikan Korea Utara USD1 miliar per tahun.

"Ini jelas saatnya semua pihak untuk fokus pada bagaimana mengurangi dan menurunkan ketegangan," kata juru bicara Sekjen PBB Antonio Guterres.

Ketegangan di semenanjung cenderung meningkat saat Seoul dan Washington memulai latihan gabungan militer utama, dan selanjutnya, Ulchi Freedom Guardian, dijadwalkan akan dimulai sekitar 21 Agustus.

Baca: AS Tidak Akan Serang Korut Tanpa Menginformasikan Korsel

Imbauan Tiongkok

Pemimpin Tiongkok Xi Jinping mendesak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menghindari retorika yang bisa mengobarkan ketegangan lebih lanjut dengan Korut.

Xi mengajukan tuntutan itu dalam percakapan telepon usai Trump menebar peringatannya kepada Pyongyang. Ia mengatakan bahwa rezim Stalinis akan "benar-benar menyesali" melakukan tindakan bermusuhan terhadap AS.

Gedung Putih berkata dalam sebuah pernyataan bahwa kedua pemimpin "setuju bahwa Korut harus menghentikan perilaku provokatif dan eskalatif," dan bahwa mereka berkomitmen melakukan denuklirisasi di Semenanjung Korea.

Tapi Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengatakan Xi mendesak Trump untuk menghindari "kata-kata dan perbuatan" yang akan "memperburuk" situasi yang sudah tegang saat ini, serta menahan diri dan mencari solusi politik.

Trump sudah terlibat perang kata-kata sepanjang pekan ini dengan Korut mengenai program persenjataan dan misilnya. Media AS melaporkan Pyongyang telah berhasil membuat miniatur hulu ledak nuklir.

Dalam percakapan dengan Gubernur Guam Eddie Calvo pada Jumat, Trump mengatakan militer AS siap "memastikan keamanan dan keamanan rakyat Guam." Percakapan itu merupakan respons atas rencana Korut meluncurkan rudalnya ke Guam.

Media Jepang menyebut Tokyo mempersiapkan sistem pertahanan rudal Patriot menyusul ancaman Pyongyang terhadap Guam.




(WIL)