Pengadilan Spanyol Periksa Para Pejabat Separatis Catalonia

Arpan Rahman    •    Kamis, 02 Nov 2017 19:10 WIB
referendum catalonia
Pengadilan Spanyol Periksa Para Pejabat Separatis Catalonia
Para petinggi Catalonia yang hadir dalam persidangan di Madrid (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Madrid: Spanyol menetapkan satu hari penuh drama dalam soal krisis Catalonia, pada Kamis 2 November. Seorang hakim di Madrid menanyai jajaran pemimpin yang digulingkan dari pemerintah separatis di wilayah tersebut.
 
Pemeriksaan lepas dari absennya Presiden Catalonia yang dipecat, Carles Puigdemont, yang kini berada di Brussels dan menolak datang, menurut pengacaranya.
 
"Dia tidak akan pergi ke Madrid dan saya menyarankan agar dia diinterogasi di sini di Belgia," Paul Bekaert mengatakan kepada televisi TV3 Spanyol, pada Rabu 1 November.
 
Sidang di pengadilan nasional Madrid, yang menangani kasus-kasus kriminal utama, akan dimulai pada pukul 9 waktu setempat dan dilanjutkan Jumat.
 
Hakim ingin mengajukan pertanyaan kepada Puigdemont dan 13 pejabat lainnya atas upaya mereka menjadi ujung tombak dorongan kemerdekaan Catalonia, yang telah menyebabkan Spanyol mengalami krisis terbesar dalam beberapa dasawarsa.
 
Referendum kemerdekaan pada 1 Oktober -- yang ditindak keras oleh polisi Spanyol dan gagal dihentikan -- diikuti sebuah deklarasi kemerdekaan oleh parlemen Catalonia pada Jumat pekan lalu.
 
Kemudian di hari itu juga pemerintah perdana menteri Spanyol, Mariano Rajoy, membubarkan pemerintah daerah dan mulai menerapkan aturan tegas mengenai wilayah timur laut yang kaya-raya.
 
Pada Senin, jaksa agung Spanyol mengatakan telah mengajukan tuntutan pemberontakan -- dan hukuman 30 tahun penjara -- atas penghasutan dan penyalahgunaan dana publik terhadap 14 terdakwa.
 
Ketua parlemen Catalonia, Carme Forcadell, dan lima wakil parlemen juga akan ditanyai atas tuduhan yang sama. Namun oleh seorang hakim lain di Mahkamah Agung.
 
Tidak jelas berapa banyak dari terdakwa yang akan muncul di pengadilan.
 
Puigdemont, 54, sudah menepis tuduhan tersebut karena bermotif politik. Pada Selasa mengatakan bahwa dia akan tinggal di Brussels sampai terjamin bahwa proses hukum apapun akan berjalan adil. Dalam sebuah pernyataan, dia katakan ada upaya bersama untuk memecah-belah pemerintahannya.
 
Pada Rabu, ratusan pendukung separatis mendampingi beberapa dari mereka ketika muncul di pengadilan Madrid hingga ke stasiun kereta utama Barcelona. Mereka ??meneriakkan "kebebasan" dan "kalian tidak sendirian".
 
Tapi  jajak pendapat menunjukkan, Catalonia tetap terbelah soal kemerdekaan. Masyarakat internasional telah mendukung kuat di belakang Rajoy, dan ketidakpastian tentang masa depan Catalonia mendorong berbagai perusahaan memindahkan markas mereka ke luar wilayah ini.
 
Selain itu, ada tanda-tanda perpecahan di kubu separatis, dan banyak yang tidak senang dengan Puigdemont dan penanganannya terhadap situasi ini.
 
Joan Josep Nuet, seorang wakil parlemen Catalonia yang harus dihadapkan ke muka pengadilan tertinggi, mengatakan pada Rabu bahwa tidak ada aksi dari Puigdemont mengenai risiko bahwa mereka yang mendukungnya akan dimasukkan ke dalam tahanan.
 
"Sikap presiden (Catalonia) dan pemerintah dalam beberapa hari terakhir ini benar-benar tidak masuk akal, hanya untuk menciptakan kebingungan lagi," kata Nuet kepada Radio Catalunya.
 
Fernando Vallespin, ilmuwan politik di Madrid, mengaku yakin Puigdemont, seorang mantan jurnalis, "lebih tertarik untuk mendapatkan perhatian media daripada melarikan diri dari keadilan".
 
"Ini perang media. Tujuan (eksekutif Catalonia) adalah untuk berupaya menyajikan pemerintah Spanyol sebagai negara penindas dan Puigdemont perlu memberi angin bagi narasi ini," katanya seperti dikutip Guardian, Kamis 2 November 2017.
 
Rajoy menyerukan pemilu sela pada 21 Desember buat menggantikan parlemen Catalonia. Puigdemont berkata akan "menghormati" hasilnya -- dan mengajukan banding ke Madrid untuk melakukan hal yang sama.



(FJR)