Puluhan Ribu Warga Hongaria Protes RUU Universitas Asing

Arpan Rahman    •    Senin, 10 Apr 2017 12:23 WIB
hongaria
Puluhan Ribu Warga Hongaria Protes RUU Universitas Asing
Pendemo membentangkan spanduk bertuliskan "apa yang Anda takutkan dari pendidikan?" dalam unjuk rasa di Budapest, Hongaria, 9 April 2017. (Foto: AFP/ATTILA KISBENEDEK)

Metrotvnews.com, Budapest: Puluhan ribu orang berunjuk rasa, Minggu 9 April 2017, di ibu kota Hungaria, Budapest. 

Mereka memprotes aturan hukum yang bisa memaksa universitas asing -- termasuk yang didirikan miliarder Amerika Serikat kelahiran Hungaria George Soros -- menghentikan kegiatan belajar mengajar.

Sebuah RUU disahkan di parlemen pekan ini oleh partai sayap kanan berkuasa -- Fidesz -- yang dipimpin Perdana Menteri Viktor Orban. Pimpinan Fidesz adalah kritikus bagi organisasi sipil liberal yang didanai Soros. Ia menetapkan aturan baru bagi perguruan tinggi asing yang beroperasi di Hongaria.

Salah satu aturan itu adalah melakukan kegiatan belajar di negara asal. Aturan ini terlihat jelas membidik Central European University (CEU), yang didirikan Soros pada 1991.

Aturan baru melarang berbagai lembaga yang berbasis di luar Uni Eropa memberi ijazah kepada warga Hungaria tanpa perjanjian mengikat antara masing-masing pemerintah. Perguruan tinggi asing juga diminta untuk memiliki kampus dan fakultas di negara asal mereka -- meskipun terdaftar di Amerika Serikat, CEU tidak memiliki kampus di sana.

RUU ini masih harus ditandatangani untuk dijadikan Undang-Undang oleh Presiden Janos Ader.


Presiden Janos Ader. (Foto: AFP/ATTILA KISBENEDEK)

Para pengunjuk rasa, yang memadati Alun-alun Kossuth di luar parlemen, mengatakan mereka ingin Ader, dari partai Orban, memveto RUU. Dihadiri 80.000 orang, unjuk rasa di Budapest menjadi protes terbesar anti-pemerintah dalam sejarah Hongaria.

"Jangan tandatangani, Jani," teriak massa, menyerukan nama panggilan Presiden Hungaria. Yel-yel lainnya, berbunyi: "Negara bebas, universitas bebas", ''Orban keluar", "Viktator!" dan "Eropa, Eropa!"

Daniel Berg, seorang mahasiswa CEU, berseru: "Ada saatnya dalam karier setiap politikus, mereka memiliki kesempatan membuktikan bahwa mereka adalah pegawai negeri, bahwa mereka bukan hanya pengurus partai, tetapi negarawan. Negara di mana pemerintah menutup sekolah-sekolah tidak akan menjadi negara maju."

CEU, universitas dengan bahasa pengangat Inggris, memiliki 1.800 mahasiswa asal 100 negara dan merupakan peringkat di atas 50 dalam studi politik dan internasional dalam daftar Peringkat Universitas Dunia.

"Para pejabat tinggi, mereka tidak menyadari bahwa kita tidak hidup di Rusia, tetapi di Hongaria!" seorang pengunjuk rasa, ahli IT 23 tahun Viktor Szakal, mengatakan kepada kantor berita AFP.

"Kita harus menunjukkan kekuatan dengan jumlah kita. Saya senang begitu banyak orang datang. Orban hanya mengerti aturan kekuasaan, dan kekuatan kita berasal dari banyaknya kita," cetusnya, seperti dikutip Al Jazeera, Senin 10 April 2017.


Logo universitas CEU. (Foto: AFP)

Juru bicara pemerintah Zoltan Kovacs membantah pada Kamis 6 April, bahwa CEU sedang dibidik. Ia mengatakan penyimpangan telah ditemukan di 27 lembaga pendidikan tinggi asing.

"Perlu dicatat bahwa semua lembaga lain telah menerima kondisi kurangnya kesetaraan universitas dan keadilan. Sejauh ini hanya CEU yang memprotes karena mereka bersikeras diperlakukan tidak adil," kata Kovacs.

RUU universitas di Hongaria telah menarik kritik luas di luar negeri, termasuk dari Washington, Brussels, dan kalangan guru besar berbagai universitas. Lebih dari 900 akademisi di seluruh dunia, termasuk 18 ekonom pemenang hadiah Nobel, sudah menandatangani sepucuk surat terbuka menyerukan usulan supaya RUU dibatalkan.

Para kritikus melihat tindakan itu sebagai serangan lain Orban kepada Soros, yang ia tuduh berusaha ikut campur dalam politik dan melemahkan Eropa dengan mempromosikan imigrasi ke Eropa.

Orban telah menuduh bahwa organisasi non-pemerintah (LSM) yang didukung Soros, termasuk pengawas korupsi Transparency International dan pembela HAM Hungarian Helsinki Committee, sebagai "agen asing" yang bekerja melawan kepentingan Hongaria.
(WIL)