Mantan Presiden Prancis Gagal Melaju ke Pemilu

Arpan Rahman    •    Senin, 21 Nov 2016 12:15 WIB
pemilu prancis
Mantan Presiden Prancis Gagal Melaju ke Pemilu
Mantan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy gagal melaju ke pemilu (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Paris: Kejutan menit terakhir yang ajaib. Francois Fillon, mantan perdana menteri, memimpin dalam pemilihan pendahuluan bagi kaum sayap kanan Prancis pada Minggu 20 November. 
 
Dengan jumlah berkisar empat juta pemilih, Fillon memperoleh sekitar 44 persen suara. Perolehan itu unggul 16 poin dari peserta kualifikasi saingannya, Alain Juppe, mantan perdana menteri lain, yang mendapatkan 28 persen. Hasil itu menyingkirkan Nicolas Sarkozy, yang pernah jadi bos mereka berdua ketika ia menjadi presiden Prancis periode 2007-2012.
 
Sarkozy mengakui kekalahannya dalam pidato televisi. "Saya ikhlas, tidak ada rasa pahit atau kesedihan, dan akan mendukung Fillon dalam pemilihan pada 27 November," katanya seperti dilansir The Economist, Senin (21/11/2016).
 
Meski pukulan besar bagi sang mantan presiden: ia sudah berjanji akan pensiun dari kehidupan publik, setelah kehilangan upayanya untuk maju ke pemilihan ulang menghadapi Francois Hollande. Hanya demi sebuah upaya kemunculan kembali, Sarkozy mencoba lagi, yang rupanya tidak dikehendaki. 
 
Para pemilih sayap kanan Prancis, tampaknya, benar-benar merasa selesai dengan dirinya. 
Fillon mengalahkan mantan presiden tersebut bahkan di beberapa daerah yang dianggap sebagai wilayah garis-keras Sarkozy, seperti Alpes-Maritimes, yang meliputi Cote d'Azur.


Mantan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy (Foto: AFP).

 
Momentum sekarang jelas ada di belakang Fillon menjelang pemungutan suara putaran kedua. Ia difavoritkan dapat mengamankan nominasi. Sebelum pemungutan suara, jajak pendapat menunjukkan bahwa ia bisa mengalahkan Juppe; menurut salah satu lembaga survei, OpinionWay, yang menempatkan margin antara 54 persen sampai 46 persen. 
 
Tapi putaran kedua bisa menjadi kontes yang ketat. Tim Juppe tidak akan ragu menyerang apa yang mereka anggap sebagai kelemahan pencalonan Fillon, khususnya liberalisme ekonominya. 
 
Di atas kertas, program ekonominya lebih ambisius, dan Juppe pasti mencoba untuk menakut-nakuti pemilih dengan menyindir janji Fillon buat memangkas anggaran dan merombak aturan pasar tenaga kerja layaknya Thatcheritas, yang paling menghina dalam politik Prancis. Thatcheritas dikenal sebagi kebijakan konservatif, filsafat politik, dan gaya kepemimpinan mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher, ditandai terutama dengan monetarisme, privatisasi, dan reformasi serikat pekerja.
 
Di soal lain juga, para pemilih akan memiliki pilihan yang cukup jelas antara dua kandidat. Sosial konservatisme ala Fillon, yang menentang adopsi oleh pasangan gay -- lewat seruan ke umat Katolik tradisionalis dalam partai. Tapi ia bisa ditolak para pemilih muda, dan kalangan di pusat. 
 
Fillon telah meneriakkan peringatan melawan ancaman "totalitarianisme Islam", sedangkan Juppe terdengar lebih menjadi pemersatu dengan seruannya tentang "identitas berbahagia" bagi orang Prancis. Dan keduanya berbeda dalam kebijakan diplomatik, terutama tentang bagaimana berurusan dengan Rusia dan Suriah. Seruan Fillon untuk mendekati Moskow dan Damaskus kontras dengan konsistensi garis keras Juppe.
 
Sewaktu para pemilih memutuskan pilihan akhir mereka, bagaimanapun, karakter dan temperamen bisa diperhitungkan sebanyak perbedaan kebijakan. Apa yang tampaknya telah mendorong Fillon memimpin adalah kinerja yang meyakinkan dalam debat di televisi, di mana ia muncul secara terukur, tajam, dan terpercaya. 
Pemilih jelas muak dengan Sarkozy, dan ternyata dalam jumlah besar kembali melirik calon alternatif. Tapi tidak meyakinkan bahwa Juppe yang berusia 71 tahun itu cukup sepadan dengan apa yang mereka cari. 
 
Fillon, berusia 62, hobi kebut-kebutan mobil -- ia menjadi bintang tamu dalam versi Prancis "Top Gear", sebuah program televisi untuk para penggemar mobil -- menawarkan semacam perbedaan guna menangkal mantan presiden yang fanatik.
 
Lomba menuju nominasi sekarang akan terfokus tidak hanya pada yang mana dari kedua kandidat akan menjadi pemimpin terbaik bagi Prancis. Tapi pada siapa yang terbaik ditempatkan untuk mengalahkan tokoh sayap kanan, Marine Le Pen. Jajak pendapat menunjukkan bahwa pemimpin Front Nasional itu akan menempati salah satu dari dua tempat yang tersedia di pemilihan presiden pada musim semi mendatang di Prancis. 
 
Hollande, yang popularitasnya telah terpuruk hingga 4 persen dalam sebuah jajak pendapat, tampak tidak mungkin mengamankan tempat bagi Partai Sosialis. Keterpurukan ini akan menempatkan calon Partai Republik dalam posisi yang kuat untuk menjadi presiden Prancis berikutnya.
 
Tetapi syaratnya hanya kalau calon itu bisa menggalang dukungan, baik di dalam kaum sayap kanan sendiri, dan dari para pemilih di pusat dan di sayap kiri. Siapa pun akan membutuhkan dukungan itu untuk maju jika berharap mengalahkan Le Pen.  


 


(FJR)

BDF IX Berakhir, Demokrasi Masih Hadapi Banyak Tantangan

BDF IX Berakhir, Demokrasi Masih Hadapi Banyak Tantangan

1 day Ago

Bali Democracy Forum (BDF) IX resmi ditutup. Sejak pertama kali diadakan pada 2008, tingkat keikutsertaan…

BERITA LAINNYA