Gencatan Senjata Rapuh, Separatis Bunuh Tiga Prajurit Ukraina

Willy Haryono    •    Selasa, 13 Sep 2016 19:43 WIB
krisis ukraina
Gencatan Senjata Rapuh, Separatis Bunuh Tiga Prajurit Ukraina
Prajurit Ukraina bersiaga di Troitske, Lugansk, 20 Agustus 2015. (Foto: AFP/OLEKSANDR RATUSHNIAK)

Metrotvnews.com, Kiev: Pemerintah Ukraina mengatakan separatis pro Rusia telah membunuh tiga prajurit Kiev dalam sebuah pelanggaran gencatan senjata yang akan coba dihidupkan kembali pekan ini. 

Peristiwa terbaru menjadikan korban tewas akibat pelanggaran mencapai empat tentara, sejak gencatan senjata di perbatasan Ukraina-Rusia diperbarui pada 1 September. 

Kubu separatis juga melaporkan adanya sejumlah korban di tengah gencatan senjata dari perang yang sudah berlangsung selama 29 bulan dengan angka kematian hampir mencapai 9.000 jiwa. 

Kematian tiga prajurit Ukraina terjadi menjelang kunjungan Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier dan Menlu Prancis Jean-Marc Ayrault untuk berbicara dengan pemerintah Ukraina. Mereka bertekad mengakhiri krisis paling berdarah di Eropa sejak berakhirnya Perang Balkan pada 1990-an. 

Pemimpin Jerman dan Prancis membantu menegosiasikan perjanjian damai pada Februari 2015 yang bertujuan mengakhiri peperangan di perbatasan Ukraina. Namun perjanjian tersebut dan serentetan gencatan senjata kurang efektif dalam mengakhiri baku tembak, yang telah menghancurkan banyak infrastruktur dan membuat sekitar dua juta warga melarikan diri dari rumah masing-masing. 

Kurang adanya perkembangan berarti dari konflik berdarah di perbatasan Ukraina memaksa kedua kubu memperpanjang Perjanjian Minsk hingga 2017. 

Juru bicara militer Ukraina Oleksandr Motuzyanyk mengatakan kepada awak media bahwa kematian terbaru terjadi di provinsi Lugansk dan Donetsk. 

"Sayangnya, tiga prajurit Ukraina tewas dan 15 lainnya terluka. Nasib satu prajurit lainnya masih belum diketahui," kata Motuzyanyk, seperti dikutip AFP

Motuzyanyk menyebut dua kematian di Lugansk "adalah peristiwa tak biasa" karena wiilayah tersebut relatif aman ketimbang area lain yang dipenuhi separatis. 

"Sebuah grup rahasia menyeberangi sungai dan membunuh prajurit kami. Baku tembak berlangsung selama 15 menit," tutur Motuzyanyk. 


(WIL)