Skandal dan Ketidaksadaran Kementerian Guncang Pemerintah Inggris

Arpan Rahman    •    Senin, 13 Nov 2017 18:03 WIB
inggris
Skandal dan Ketidaksadaran Kementerian Guncang Pemerintah Inggris
Pemerintahan Perdana Menteri Inggris Theresa May diwarnai berbagai macam skandal (Foto: AFP).

London: Jika satu pekan menjadi waktu yang panjang dalam politik, cobalah dua minggu.  Serangkaian skandal pelecehan seksual di Westminster dan sekitarnya disusul kesilapan sejumlah menteri pemerintahan Inggris.

Kombinasi tersebut mengekspos kelemahan Perdana Menteri Theresa May pada saat-saat penting dalam negosiasi Brexit.

Laporan tentang pelecehan seksual yang terus berlanjut menuding seorang menteri hingga Sir Michael Fallon mengundurkan diri sebagai menteri pertahanan atas perilaku masa lalunya yang ambruk di bawah standar. PM May menghadapi kritik karena telah menggantikannya dengan tokoh politik gerakan, Gavin Williamson, sekutu dekatnya yang tanpa pengalaman jadi menteri. 

Dia sudah limbung terhuyung-huyung karena sahabat lamanya Damian Green, wakil perdana menteri, sedang diselidiki oleh Cabinet Office karena tuduhan melakukan pelecehan seksual (dan memiliki konten porno di komputer kantor), yang dengan berat dibantahnya. Mark Garnier, menteri perdagangan, juga sedang diselidiki.

Kesilapan para menteri semakin memperlemah perdana menteri. Pekan ini, May memanggil pulang Menteri Pembangunan Internasional, Priti Patel, yang mengundurkan diri setelah secara tidak wajar dan diam-diam bertemu kalangan pejabat senior Israel, tanpa memberi tahu, baik kepada Kementerian Luar Negeri atau PM May sebelumnya. 

Boris Johnson, Menlu Inggris, berada dalam santapan berita panas karena secara keliru memberitahu anggota parlemen bahwa Nazanin Zaghari-Ratcliffe, wanita Inggris-Iran yang dipenjara di Iran, telah mengajar wartawan, padahal sebenarnya dia sedang berlibur.

Johnson menolak minta maaf, meskipun kesalahan dia bisa berarti hukuman penjara ekstra baginya. Mungkin May segera memecatnya juga, tapi sepertinya dia tidak bisa membuang penyokong Brexit yang begitu menonjol ini.

Dilansir The Economist, Senin 13 November 2017, di tengah daftar anggota parlemen yang dilaporkan dituduh melakukan perilaku yang tidak pantas, beberapa di antaranya telah dirujuk ke polisi atau menjalani proses pendisiplinan. Di Partai Tory, Charlie Elphicke dan Chris Pincher berada di bawah penyelidikan polisi; Daniel Kawczynski dan Dan Poulter termasuk di antara mereka yang tunduk pada pertanyaan disipliner. 

Partai Buruh sudah menangguhkan seorang anggota parlemen, Kelvin Hopkins, dan seorang ajudan Jeremy Corbyn, David Prescott. Seorang mantan menteri asal Welsh Labor, Carl Sargeant, bunuh diri setelah diskorsing.

Beberapa pelanggaran itu tampak ringan. Dalam beberapa kasus juga, praduga tak bersalah nampak telah dilupakan. Tapi ketiga partai utama tersebut menilai bahwa tuduhan pemerkosaan mengkonfirmasi kerentanan banyak orang yang bekerja di Westminster atas pelecehan dan pemaksaan. 

Di tengah klaim bahwa korban mengaku tidak dapat mengeluh, May sedang menyiapkan prosedur pengaduan lintas partai dan meluncurkan layanan pendukung bagi staf karyawan. Jika tudingan selama berminggu-minggu belakangan ini adalah sebuah petunjuk, maka bisa diperkirakan beban kerjanya makin berat.



(FJR)