AS-Rusia Jajaki Kesepakatan Sudahi Perang Saudara di Suriah

Arpan Rahman    •    Jumat, 10 Nov 2017 17:31 WIB
isis
AS-Rusia Jajaki Kesepakatan Sudahi Perang Saudara di Suriah
Tank militer Suriah hantam basis pertahanan kelompok ISIS (Foto: AFP).

Washington: Amerika Serikat (AS) dan Rusia mendekati sebuah kesepakatan mengenai Suriah. Kedua negara berharap menyelesaikan perang sipil negara Arab itu setelah kelompok ekstremis Islamic State (ISIS) dikalahkan.

Jika dipastikan, kesepakatan tersebut diperkirakan akan diumumkan oleh Presiden Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vietnam, pada Jumat 10 November, menurut bocoran dari empat pejabat AS. AS enggan menjadwalkan pertemuan formal untuk para pemimpin kecuali jika mereka memiliki kesepakatan substantif buat mengumumkannya.

Namun Juru Bicara Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders berkata bahwa mereka tidak akan mengadakan pertemuan formal sesuai bentrokan jadwal di kedua pihak. Namun, Sanders mengakui kemungkinan Trump dan Putin dapat mengadakan pertemuan non-formal selama di Vietnam.

Saling pengertian potensial muncul saat rangkaian pasukan berada di ambang kekalahan terakhir ISIS, kelompok ekstremis yang pernah menguasai sebagian besar Irak dan Suriah. 
(Baca: ISIS Berhasil Diusir dari Lokasi Pertahanan Terakhir di Suriah).

Memerangi kelompok itu tidak lagi menjadi prioritas utama, mengalihkan fokus kembali ke konflik Suriah yang tak terkendali antara pemerintah Presiden Bashar Assad dan pemberontak. Serta kekhawatiran bahwa kekuatan asing seperti Iran sekarang akan mendominasi masa depan negara tersebut.

Perjanjian AS-Rusia yang sedang dibahas akan berfokus pada tiga elemen, kata para pejabat: "meredakan konflik" antara militer AS dan Rusia, mengurangi kekerasan dalam perang saudara, dan menghidupkan kembali perundingan yang dipimpin PBB. Para pejabat tersebut tidak berwenang membahas musyawarah tersebut dan meminta dianonimkan.

Militer AS dan Rusia telah mempertahankan tajuk "tidak berkonflik" selama bertahun-tahun demi menghindari bentrok tidak diinginkan. Bahkan kemungkinan konfrontasi, karena masing-masing beroperasi di langit Suriah yang sama. Kampanye udara dahsyat oleh Rusia sudah diyakini untuk mendukung posisi Assad, sekutu dekat Moskow.

Sementara ISIS mendekati kekalahan, AS dan Rusia kehilangan musuh bersama mereka di Suriah dan akan tetap berada dalam pertempuran proksi di mana Rusia mendukung Assad dan AS memberi setidaknya dukungan retoris kepada kelompok oposisi bersenjata yang memerangi pemerintah. Hal itu meningkatkan kebutuhan akan komunikasi yang erat antara kedua kekuatan di mana pasukan mereka beroperasi pada waktu tertentu, kata beberapa pejabat.

Kesepakatan tersebut juga berupaya menambah kemajuan dalam membangun "zona de-eskalasi" di Suriah yang telah meredakan beberapa bagian negara tersebut. 

Pada Juli, ketika Trump mengadakan pertemuan pertamanya dengan Putin di Jerman, AS dan Rusia mengumumkan sebuah kesepakatan yang mencakup Yordania dan mengadakan gencatan senjata di Suriah barat daya. Pihak AS mengatakan, gencatan senjata telah diberlakukan dan dapat dicontoh di sejumlah tempat lain di negara ini.

Perhatian utama AS, bersama sekutu dekatnya Israel, adalah kehadiran milisi didukung Iran di Suriah, yang telah mengeksploitasi celah kosong kekuasaan. AS dan Israel sudah mencari cara demi mencegah pasukan yang setia kepada Iran -- musuh utama Israel -- mulai membangun kehadiran permanen. Satu gagasan bergantung pada "zona penyangga" di sepanjang perbatasan Israel-Suriah.

Unsur ketiga dari kesepakatan tersebut akan menegaskan kembali dukungan bagi upaya PBB yang terakhir di Jenewa: mencari transisi politik di Suriah dan menyelesaikan perang saudara. AS dan Rusia berselisih paham selama bertahun-tahun mengenai apakah Assad boleh tetap berkuasa di pemerintahan Suriah mendatang.

Perundingan PBB, yang berjalan sesuai rencana dan dimulai tanpa menghasilkan kemajuan yang signifikan, bukanlah satu-satunya diskusi tentang masa depan Suriah. Rusia, Turki, dan Iran telah merundingkan proses mereka sendiri di Astana, Kazakhstan. AS menilai pembicaraan tersebut dengan waspada karena keterlibatan Iran. Meskipun hasilnya telah mencapai kesepakatan gencatan senjata lokal yang telah mengurangi kekerasan.

"Kami percaya bahwa proses Jenewa adalah cara yang tepat untuk diikuti," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Heather Nauert, Kamis. "Sayangnya, masih jauh sekali, tapi kita semakin dekat," cetusnya seperti dinukil kantor berita AFP, Jumat 10 November 2017.

Kesepakatan AS-Rusia juga dapat memperluas mandat "pusat pemantauan" gabungan yang didirikan tahun ini di Amman, Yordania. Khususnya mengawasi pelanggaran gencatan senjata dan perkembangan lainnya di lapangan. Berfokus pada Suriah barat daya, di mana gencatan senjata sudah berlaku, namun dapat digunakan memantau kawasan yang lebih luas di negara tersebut.

Meski Moskow telah mengincar sebuah pertemuan formal antara Trump dan Putin saat keduanya berada di Vietnam pekan ini, AS tidak berkomitmen mengadakan pertemuan semacam itu. Sejauh perhatian Washington, hal itu tidak akan cocok dengan kepentingan AS kecuali ada kemajuan antarkedua negara untuk mengumumkan -- soal Suriah atau hal lainnya. Pembantu Putin mengatakan, sebuah pertemuan kemungkinan akan terjadi pada Jumat dengan waktu, tempat, dan formatnya sedang dibahas kedua pemerintah.

"Kami sudah berhubungan dengan mereka, dan pandangannya jika kedua pemimpin akan bertemu, adakah sesuatu yang cukup substantif untuk dibicarakan yang akan menjamin sebuah pertemuan formal?" Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson berucap, Kamis, di Beijing.


(FJR)