Iran Tolak Tawaran Perundingan kembali Perjanjian Nuklir

Arpan Rahman    •    Rabu, 08 Aug 2018 07:09 WIB
amerika serikatnuklir iraniran
Iran Tolak Tawaran Perundingan kembali Perjanjian Nuklir
Presiden Iran Hassan Rouhani. (Foto: AFP)

Teheran: Iran menolak tawaran Amerika Serikat untuk merundingkan kembali kesepakatan nuklir yang telah disepakati dengan sejumlah kekuatan besar dunia pada 2015. Penolakan dilakukan karena Presiden AS Donald Trump menerapkan kembali sanksi ekonomi kepada Teheran pada Selasa 7 Agustus 2018.

Sanksi dijatuhkan kembali usai Trump menarik diri dari perjanjian nuklir 2015. Langkah tersebut membuat sejumlah mitra Eropa kesal, karena bisnis mereka di Iran juga terancam ikut terkena imbas sanksi.

Sanksi yang mulai berlaku pada Selasa menargetkan akses Iran terhadap mata uang AS dan sektor ekonomi utama, termasuk mobil dan karpet.

Sebagian besar dampak penjatuhan sanksi telah terjadi, seperti pelemahan mata uang Iran dan memburuknya inflasi.

"Harga telah meningkat selama tiga atau empat bulan terakhir, dan semua yang kami butuhkan menjadi sangat mahal, bahkan sebelum sanksi kembali," kata Yasaman, seorang fotografer di Teheran, seperti disitir dari AFP, Selasa 7 Agustus 2018.

Dalam sebuah pernyataan pada Senin kemarin, hanya beberapa jam sebelum sanksi mulai berlaku, Trump berkata: "Rezim Iran menghadapi pilihan. Ubah perilaku mengancam, mendestabilisasi, dan segera reintegrasi dengan ekonomi global, atau terus berada di jalur isolasi ekonomi." 

"Saya tetap terbuka untuk mencapai kesepakatan yang lebih komprehensif yang membahas berbagai macam aktivitas buruk rezim itu, termasuk program rudal balistik dan dukungannya untuk terorisme," kata Trump.

Namun Presiden Iran, Hassan Rouhani, menepis gagasan perundingan ulang sementara sanksi yang melumpuhkan tetap diberlakukan.

"Jika Anda seorang musuh dan Anda menikam orang lain dengan pisau, dan kemudian Anda mengatakan Anda ingin bernegosiasi, maka hal pertama yang harus Anda lakukan adalah menyingkirkan pisau itu," katanya kepada media nasional.

"Mereka ingin memulai perang psikologis melawan bangsa Iran," kata Rouhani. "Negosiasi dengan sanksi tidak masuk akal."

Sementara itu, desas-desus beredar bahwa Trump dan Rouhani dapat bertemu di New York pada September di sela-sela sidang Majelis Umum PBB.


(WIL)