Tiongkok-Iran Menandatangani Kontrak Desain Ulang Reaktor Nuklir

Arpan Rahman    •    Jumat, 21 Apr 2017 00:20 WIB
nuklir iran
Tiongkok-Iran Menandatangani Kontrak Desain Ulang Reaktor Nuklir
Reaktor nuklir Arak di Iran akan didesain ulang (Foto: Reuters).

Metrotvnews.com, Beijing: Sejumlah perusahaan dari Tiongkok dan Iran, akhir pekan ini, akan menandatangani kontrak komersial perdana untuk merancang ulang pabrik nuklir Iran sebagai bagian dari kesepakatan internasional yang dicapai pada 2015 mengenai program nuklir Iran. Sumber Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengungkapkan rancang ulang itu, pada Kamis 20 April.
 
Bagian reaktor Arak di Iran tengah menjadi salah satu poin yang paling sulit dalam negosiasi nuklir yang panjang, yang dimuat kesepakatan tersebut. Perjanjian itu ditandatangani oleh Iran dengan Amerika Serikat (AS), Inggris, Prancis, Tiongkok, Rusia, dan Jerman.
 
Dalam perancangan ulang, kandungan air (campuran hidrogen dalam molekul sebagian atau seluruhnya digantikan oleh isotop deuterium, yang dipakai terutama sebagai moderator dalam reaktor nuklir) dari reaktor tersebut akan dikonfigurasi ulang. Sehingga tidak dapat menghasilkan serpihan plutonium yang bisa digunakan dalam bom nuklir.
 
Juru bicara Kemenlu Tiongkok, Lu Kang, mengatakan kontrak untuk desain ulang pabrik tersebut akan ditandatangani pada Minggu 23 April di Wina dengan kesepakatan awal yang telah dicapai di Beijing. Ia menggambarkannya sebagai bagian penting dari kesepakatan nuklir Iran.
 
Tiongkok dan AS adalah ketua kelompok kerja bersama dalam proyek Arak, dan kemajuannya lancar, Lu mengatakan pada sebuah berita harian.
 
"Penandatanganan kontrak ini akan menciptakan kondisi yang baik untuk memulai proyek perancangan ulang secara substansial," kata Lu, seperti disitir Reuters, Kamis 20 April 2017.
 
Iran telah mengatakan bahwa pabrik dengan kandungan air berkapasitas 40 megawatt bertujuan memproduksi isotop untuk kanker dan perawatan medis lainnya, sembari membantah bahwa aktivitas nuklirnya ditujukan buat mengembangkan senjata.
 
Pengumuman tersebut disampaikan saat Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson menuduh Iran "sedang memprovokasi bahaya" untuk menggoyahkan negara-negara di Timur Tengah, di kala pemerintah Trump meluncurkan sebuah kajian terhadap kebijakannya atas Teheran.
 
Tillerson mengatakan bahwa peninjauan tersebut tidak hanya akan menilai kepatuhan Iran dalam kesepakatan nuklir 2015, tetapi juga perilakunya di kawasan yang menurutnya merongrong kepentingan AS di Suriah, Irak, Yaman, dan Lebanon.
 
Lu, tidak secara langsung merujuk pada komentar Tillerson, menuturkan bahwa Tiongkok berharap semua pihak dapat memastikan kesepakatan nuklir dilaksanakan, dengan tepat menangani perselisihan, memberikan kontribusi positif terhadap non-proliferasi dan perdamaian serta stabilitas nuklir di Timur Tengah.



(FJR)