Gagal Lindungi Anak Pengungsi, Komite Hak Anak PBB Kecam Nauru

Sonya Michaella    •    Sabtu, 08 Oct 2016 11:07 WIB
imigran gelap
Gagal Lindungi Anak Pengungsi, Komite Hak Anak PBB Kecam Nauru
Para pencari suaka di Pulau Nauru (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, New York: Komite Hak Anak yang berada di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam Nauru dalam kegagalannya melindungi anak-anak pencari suaka dari pelecehan seksual di kamp penampungan.

"Perlakuan ini sungguh tidak manusiawi dan merendahkan martabat, termasuk pelecehan fisik, psikologis, dan seksual terhadap pengungsi, terutama anak-anak yang tinggal di penampungan," kata laporan dari Komite PBB tentang Hak Anak, seperti dikutip Reuters, Sabtu (8/10/2016).

Laporan ini juga menyoroti kurangnya pelayanan dasar, seperti air minum bersin dan dukungan kesehatan mental untuk anak-anak, di mana mereka adalah pencari suaka yang ditahan di Nauru.


Pulau Nauru/AFP

Di bawah garis keras kebijakan imigrasi Australia, pencari suaka dicegat ketika akan mencapai negara dengan perahu yang mereka tumpangi ke Pulau Manus di Papua Nugini, sehingga sampai saat ini para pencari suaka tersebut masih tertahan di Nauru.

Kamp permrosesan lepas pantai Australia untuk pencari suaka banyak dikritik oleh kelompok hak asasi manusia atas tuduhan pelanggaran sistemik tahanan, termasuk kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak-anak.

Serangkaian kekerasan ini menyebabkan satu pengungsi tewas pada Mei lalu di Nauru.

"Australia tidak bisa lepas tanggung jawab. Tidak ada yang terjadi di Nauru tanpa persetujuan Australia," kata salah satu anggota Koalisi Aksi Pengungsi.

Sementara, juru bicara dari Pemerintah Nauru dan Departemen Imigrasi Australia serta Perlindungan Perbatasan hingga sekarang tidak menanggapi permintaan untuk mengomentari laporan tersebut.


(FJR)

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

1 day Ago

Perdana Menteri Italia Metteo Renzi mundur dari jabatannya setelah gagal menang dalam referendum…

BERITA LAINNYA