Tujuh Orang Tewas dalam Beberapa Serangan di Afrika Tengah

Whisnu Mardiansyah    •    Senin, 13 Nov 2017 05:52 WIB
ledakan
Tujuh Orang Tewas dalam Beberapa Serangan di Afrika Tengah
Ilustrasi ledakan. MTVN/Moh Rizal.

Bangui: Tujuh orang tewas dan sekitar 20 lainnya terluka dalam serangan granat pada sebuah konser perdamaian di Ibu Kota Republik Afrika Tengah, Bangui. Serangan itu disusul aksi balasan.

Menteri Dalam Negeri Afrika Tengah Henri Wanzet Linguissara mengatakan dua orang di sebuah sepeda motor mendekati para peserta konser dan melemparkan granat. Konser diselenggarakan untuk mendorong rekonsiliasi konflik yang berkecamuk.

"Ini tindakan keji, kami telah mendata empat korban tewas dan 20 lainnya terluka, termasuk empat orang yang dalam kondisi serius dan telah dibawa ke ruang operasi," kata Henri seperti dilansir Reuters, Senin 13 November 2017.

Usai serangan di konser, meletus aksi balasan yang terkonsentrasi ke sebuah kantung komunitas muslim di daerah PK5, Bangui. Ibu Kota Bangui sendiri didominasi pemeluk Kristen. Tiga orang tewas dalam serangan aksi balasan ini. Warga pun berinisiatif membuat barikade ke pintu akses lingkungan mereka.

"Tiga pemuda kita terbunuh, tampaknya dalam pembalasan karena mereka berpikir bahwa umat Islam berada di balik serangan granat. Kami menyesalkan serangan itu. Kami membuat barikade untuk memastikan provokator tidak menyusup ke lingkungan kami," kata warga Habib Soule. 

Seorang warga PK5 kedua dan seorang sumber keamanan, yang meminta tidak disebutkan namanya, membenarkan bahwa tiga supir taksi motor tewas dalam pembalasan atas serangan konser tersebut.

Kota yang terletak tepi sungai itu telah menjadi sentral kekerasan antaragama yang meletus antara Muslim dan Kristen pada tahun 2013. Konflik agama hampir memasuki tahun kelima di Republik Afrika Tengah. Ditandai dengan gelombang pembersihan etnis berturut-turut, situasi keamanan memburuk, terutama di timur.

Pekan ini, Dewan Keamanan U.N dijadwalkan untuk memberikan suara pada sebuah resolusi rancangan Prancis untuk memberi wewenang tambahan 900 tentara untuk melindungi warga sipil di Republik Afrika Tengah.


(DRI)