Lebih dari 2.500 Warga Sipil Tewas dalam Pertempuran Mosul

Arpan Rahman    •    Jumat, 03 Nov 2017 17:06 WIB
krisis suriah
Lebih dari 2.500 Warga Sipil Tewas dalam Pertempuran Mosul
Kehancuran di Mosul, Irak akibat perang melawan ISIS (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Mosul: Sedikitnya 2.521 warga sipil tewas dalam pertempuran selama sembilan bulan di Mosul. Termasuk 741 orang yang dieksekusi oleh militan Islamic State (ISIS). 
 
Sementara sebagian besar meninggal akibat serangan ISIS, laporan PBB meminta pihak berwenang Irak menyelidiki dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pasukan pendukung Irak selama operasi. Juga diserukan penyelidikan terpisah atas serangan udara oleh koalisi internasional.
 
Dikatakan bahwa PBB sudah mencatat 461 kematian warga sipil akibat serangan udara selama fase pertempuran paling intensif, mulai 19 Februari.
 
Laporan tersebut mengatakan bahwa Irak tidak dapat menghukum kekejaman yang dilakukan oleh ISIS selama perang Mosul. Sehingga harus ditemukan jalan lain menuju keadilan seperti Pengadilan Pidana Internasional (ICC).
 
"Pengadilan dan kehakiman Irak tidak memiliki yurisdiksi atas kejahatan internasional (seperti genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang) -- dan jaksa, penyidik ??polisi dan hakim tidak memiliki kapasitas untuk (menyelidiki), menuntut dan mengadili orang-orang sehubungan dengan kejahatan," bunyi laporan Dewan HAM PBB, seperti disitat Middle East Eye, Jumat 3 November 2017.
 
Selain itu, undang-undang Irak tidak memadai buat menjamin proses hukum atau penghakiman yang adil, katanya.
 
Yurisdiksi ICC yang berbasis di Den Haag dan menemukan cara lain demi memastikan kejahatan diadili oleh pengadilan yang kompeten harus ditempuh. Sebab itu "akan meyakinkan masyarakat internasional bahwa Irak serius dalam memastikan pertanggungjawaban orang-orang yang telah melakukan kejahatan internasional", menurut laporan PBB.
 
Memastikan keadilan menjadi kunci guna membangun kembali kepercayaan dan rekonsiliasi, katanya.
 
Middle East Eye (MEE) mendokumentasikan sejumlah pelanggaran HAM potensial selama pertempuran di Mosul.
 
Komandan militer di kota tersebut mengaku telah membunuh tersangka ISIS tanpa pandang bulu.
 
"Ada banyak warga sipil di antara mayat-mayat tersebut," seorang mayor tentara Irak mengatakan kepada MEE. "Setelah pembebasan diumumkan, perintah diberikan untuk membunuh apapun atau siapapun yang bergerak."
 
Berbicara dengan syarat anonim, mayor itu menuturkan bahwa perintah tersebut salah, namun militer harus patuh.
 
"Itu bukan hal yang tepat untuk dilakukan," katanya.
 
"Sebagian besar pejuang ISIS menyerah, mereka menyerahkan diri, dan kami membunuh mereka begitu saja," cetusnya.
 
Dia juga mengakui bahwa mereka hanya memiliki sedikit tahanan. "Kami punya banyak penjara, tapi sekarang kami tidak menjeruji para tahanan seperti sebelumnya," katanya.
 
"Sebelumnya dalam perang ini, kami menahan banyak ISIS dan membawa mereka ke dinas intelijen. Tapi sekarang, kami hanya melakukan sedikit penangkapan," pungkasnya.



(FJR)