Kenaikan Harga Barang Memicu Protes Luas di Iran

Arpan Rahman    •    Sabtu, 30 Dec 2017 10:42 WIB
politik iraniran
Kenaikan Harga Barang Memicu Protes Luas di Iran
Protes warga Iran yang mengkritik kenaikan harga barang dan isu korupsi (Foto: SBS).

Teheran:  Unjuk rasa menentang dugaan korupsi dan kenaikan harga berubah menjadi gelombang demonstrasi terbesar sejak kerusuhan pro-reformasi nasional di tahun 2009. Para demonstran meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah di beberapa kota di Iran pada Jumat 29 Desember. 
 
Polisi membubarkan demonstran anti-pemerintah di kota barat Kermanshah saat aksi spontan menyebar ke Teheran dan beberapa kota lain, sehari setelah demonstrasi di timur laut, kantor berita semi-resmi Fars melaporkan.
 
Pecahnya kerusuhan mencerminkan ketidakpuasan yang meningkat atas kenaikan harga dan dugaan korupsi, serta kekhawatiran akan keterlibatan Iran dalam konflik regional seperti Suriah dan Irak.
 
Seorang pejabat mengatakan beberapa pemrotes telah ditangkap di Teheran. Tayangan video yang diposting di media sosial menunjukkan pengawalan ketat polisi dalam sejumlah demo di kota-kota lain.
 
Sekitar 300 demonstran berkumpul di Kermanshah menyusul apa yang dilaporkan Fars sebagai "seruan dari anti-revolusi". Mereka berteriak "Tahanan politik harus dibebaskan" dan "Kebebasan atau kematian", dan beberapa prasarana publik hancur. Fars tidak menyebut nama kelompok oposisi yang berdemo.
 
Protes di Kermanshah, kota utama di wilayah mana gempa menewaskan lebih dari 600 orang pada November, terjadi sehari sesudah ratusan orang berkumpul di kota terbesar kedua di Iran, Mashhad. Mereka meneriakkan slogan anti-pemerintah demi memprotes harga yang membubung tinggi.
 
Rekaman yang tidak bisa diverifikasi menunjukkan demonstrasi di kota lain termasuk Sari dan Rasht di utara, Qom selatan Teheran, dan Hamadan di barat.
 
"Sekitar 50 orang sudah berkumpul di sebuah lapangan di ibu kota. Namun sebagian besar pergi setelah polisi meminta mereka untuk melakukannya. Beberapa yang menolak, ditahan sementara," ujar Wakil Kepala keamanan di Provinsi Teheran Mohsen Nasj Hamadani, seperti dikutip kantor berita IRNA, Sabtu 30 Desember 2017.
 
Seorang warga di kota Isfahan berkata bahwa para pengunjuk rasa bergabung dalam sebuah demonstrasi yang diadakan oleh pekerja pabrik yang menuntut upah lebih tinggi. Slogan-slogan dengan cepat berubah dari ekonomi menyasar Presiden Hassan Rouhani, dan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, warga tersebut mengatakan melalui telepon.
 
Protes politik murni jarang terjadi di Iran. Kerusuhan terakhir yang signifikan secara nasional meruyak pada 2009 ketika Mahmoud Ahmadinejad terpilih kembali sebagai presiden memicu delapan bulan demonstrasi jalanan. Seteru pro-reformasi mengatakan pemungutan suara itu dicurangi.
 
"Jika aparat keamanan dan penegak hukum membiarkan para perusuh itu sendiri, pihak seteru akan menerbitkan film dan gambar di media mereka dan mengatakan bahwa sistem Republik Islam telah kehilangan basis revolusionernya di Masyhad," tegas ulama Ayatullah Ahmad Alamolhoda. 
 
Wakil presiden Iran, Eshaq Jahangiri, sekutu dekat Rouhani, mengemukakan bahwa kaum konservatif garis keras mungkin telah memicu demonstrasi tersebut.
 
"Ketika sebuah gerakan sosial dan politik diluncurkan di jalanan, mereka yang memulainya tentu belum bisa mengendalikannya pada akhirnya," Jahangiri menegaskan.
 
Pengangguran mencapai 12,4 persen pada tahun fiskal ini, menurut Pusat Statistik Iran, naik 1,4 persen dari tahun sebelumnya. Sekitar 3,2 juta orang Iran menganggur, dari total populasi 80 juta jiwa.



(FJR)

Myanmar Sepakat Terima 1.500 Rohingya Setiap Pekan

Myanmar Sepakat Terima 1.500 Rohingya Setiap Pekan

16 hours Ago

Myanmar menyanggupi akan menyediakan tempat penampungan sementara bagi Rohingya yang kembali.

BERITA LAINNYA