Pengamat: Krisis Lebanon Dilatarbelakangi Ketakutan Arab Saudi atas Iran

Marcheilla Ariesta    •    Kamis, 23 Nov 2017 19:27 WIB
konflik lebanonarab saudi
Pengamat: Krisis Lebanon Dilatarbelakangi Ketakutan Arab Saudi atas Iran
PM Lebanon Saad Hariri berbicara kepada rakyatnya (Foto: AFP).

Jakarta: Awal November Lebanon dikejutkan oleh mundurnya Perdana Menteri Saad Hariri. Pria 47 tahun itu mengumumkan pengunduran diri secara tak lazim saat berada di Riyadh, ibu kota Arab Saudi.
 
Hariri disinyalir berada dibawah tekanan Arab Saudi saat mengumumkan pengunduran dirinya. Pertanyaan muncul dari berbagai pihak, bagaimana bisa sedemikian mendadaknya sang PM mundur dan meninggalkan rakyat yang mencintainya.
 
 
Lebanon merupakan salah satu negara moderat di Timur Tengah. Sebanyak 18 kepercayaan menjadi satu di Lebanon, terdiri dari empat kepercayaan Islam, Yahudi, Kristen dan lain sebagainya.
 
Prof. Dr. Hilal Khashan, Ph.D, Ketua Jurusan Ilmu Politik dan Administrasi Umum American University of Beirut, mengungkapkan bahwa di negaranya sudah memiliki kesepakatan. 
 
"Posisi perdana menteri harus diisi orang dengan kepercayaan Sunni, sementara presiden harus dari kalangan Kristen Maronit, kemudian untuk ketua parlemen harus dari Syiah. Semua sudah ada bagiannya," ujar dia dalam forum Kajian Stratejik: The Dynamics of Middle Eastern Politics, di Kampus Universitas Indonesia, Jakarta, Kamis, 23 November 2017.


Diskusi mengenai dinamika politik Timur Tengah di Universitas Indonesia, Salemba (Foto: Marcheilla Ariesta).
 
 
Karena pembagian kepemimpinan inilah, Arab Saudi tidak setuju jika ada orang-orang Syiah. Pasalnya, orang-orang ini dekat dengan Iran, yang notabene penduduknya memiliki kepercayaan Islam Syiah.
 
Ketakutan Saudi mempengaruhi kekuasaan Hariri di Lebanon. Terlebih lagi, ketika Hariri memiliki kewarganegaraan ganda, yaitu Lebanon dan Arab Saudi.
 
Riyadh seperti lebih peduli pada eksistensi mereka di kawasan, sehingga tidak peduli dengan pemerintahan negara lain. Sebegitu takutnya Arab Saudi atas kekuatan Iran, yang padahal mereka sendiri yang membangkitkannya.
 
"Untuk urusan dalam negeri, seperti pemerintahan, sesuai dengan undang-undang yang berlaku di Lebanon, semuanya sudah terbagi dan mereka yang memeluk kepercayaan Syiah mendapat bagian juga. Hal ini yang membuat Saudi tidak setuju dan meminta Hariri mundur jika dia masih ingin memiliki kewarganegaraannya," ungkap Hilal.
 
"Kekuatan Iran sendiri bangkit di kawasan karena Saudi juga. Saat perang Irak-Iran, Saudi mencoba berkoalisi dengan Irak untuk melawan Iran. Sayangnya mereka tak bisa menandingi kekuatan Iran. Pertarungan Arab-Persia ini berlanjut. Iran menjadi negara kaya, sementara Irak terpuruk," imbuhnya.
 
 
Dalam perang tersebut, Arab Saudi kemudian mencoba melobi pemerintah Suriah untuk membebaskan tahanan teroris mereka dan membantu dalam melawan Iran. Sayangnya, risiko besar harus dihadapi Suriah akibat permintaan Negeri Petro Dolar tersebut.
 
Para pemberontak malah balik menyerang pemerintah Suriah sebagai bentuk balas dendam dan membuat kelompok, yang saat ini kita kenal sebagai Jabhat al-Nusra. Banyaknya pemberontak membuat Suriah kewalahan dan akhirnya mereka meminta bantuan kepada Iran. Hal ini membuat nama Iran semakin melambung.
 
Menurut Hilal, kebijakan Saudi di kawasan kebanyakan tidak tepat dan malah merugikan negara mereka. Dia juga menambahkan, jika Putra Mahkota, Mohamed bin Salman Abdulaziz al Saud terus bersikap keras hingga dia menjadi raja, maka pada 2030, Arab Saudi diramalkan akan hancur.
 
Ketakutan Arab Saudi terhadap Iran menurut dia menutup segala krisis yang terjadi di Timur Tengah, seperti di Irak, Suriah, bahkan Palestina.

(FJR)