Iran akan Pertahankan Kesepakatan Nuklir dengan Negara Besar

Fajar Nugraha    •    Selasa, 08 May 2018 09:45 WIB
nuklir iranas-iran
Iran akan Pertahankan Kesepakatan Nuklir dengan Negara Besar
Presiden Iran Hassan Rouhani berkomitmen terhadap kesepakatan nuklir dengan kekuatan dunia (Foto: AFP).

Teheran: Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan Iran bersedia untuk tidak meninggalkan kesepakatan nuklir meskipun Amerika Serikat (AS) menarik diri. Namun dengan jaminan Uni Eropa (UE) bahwa Iran akan terus mendapatkan manfaat dari perjanjian itu.
 
Komentar Rouhani disampaikan menjelang keputusan Presiden AS Donald Trump yang diperkirakan akan disampaikan akhir pekan ini mengenai apakah Amerika akan keluar dari perjanjian penting antara Iran dan negara-negara besar dunia.
 
"yang kami inginkan adalah perjanjian itu dipertahankan dan dijamin oleh negara-negara non-Amerika," ujar Rouhani, merujuk pada penandatangan lain perjanjian 2015, yaitu Inggris, Rusia, Prancis, Tiongkok, bersama Jerman dan Uni Eropa.
 
"Jika ini terjadi maka penarikan AS dari perjanjian itu tidak menjadi masalah," jelasnya, seperti dikutip VOA Indonesia, Selasa 8 Mei 2018.
 
Pertemuan AS dan Inggris
 
Menteri luar negeri Inggris Boris Johnson berada di Washington Senin 7 Mei dan diperkirakan selama dua hari mendatang akan bertemu dengan pejabat pemerintah sambil Presiden Donald Trump mempertimbangkan apakah AS akan bertahan dalam perjanjian nuklir multinasional dengan Iran yang dengan sengit dikecamnya.
 
 (Baca: Trump Segera Putuskan Sikap soal Perjanjian Nuklir Iran).

Johnson bertemu dengan Menlu AS yang baru Mike Pompeo, di Kementerian Luar Negeri. Keduanya berjabat tangan dalam sesi foto singkat namun tidak melakukan tanya jawab.
 
Lawatan Johnson menyusul kunjungan para pemimpin Prancis dan Jerman,dalam beberapa minggu terakhir yang juga mencoba meyakinkan Trump untuk tetap menghormati perjanjian itu.
 
Ketiga negara Eropa itu menandatangani kesepakatan 2015, bersama Rusia dan Tiongkok.
 
Dalam artikel yang ditulisnya untuk harian New York Times, Johnson menulis perjanjian itu memberikan kerugian paling sedikit diantara semua pilihan yang tersedia.
 
Trump sebelumnya mengisyaratkan akan mundur dari perjanjian itu menjelang 12 Mei jika tidak dirundingkan kembali dan diubah.
(FJR)