Oposisi Tolak Hasil, Pemilu Kenya Dibayangi Bentrokan

Arpan Rahman    •    Sabtu, 12 Aug 2017 12:08 WIB
konflik kenya
Oposisi Tolak Hasil, Pemilu Kenya Dibayangi Bentrokan
Kerusuhan yang terjadi di Kenya usai pemilu (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Nairobi: Kenya menghadapi demonstrasi dan bentrokan kekerasan sesudah pemimpin oposisi menolak menerima hasil pemilihan umum.
 
Presiden Uhuru Kenyatta dinobatkan sebagai pemenang pemilu dalam persaingan ketat. Namun saingannya Raila Odinga mengklaim sudah tercoreng oleh kecurangan.
 
Laporan tentang kerusuhan dan tembakan di beberapa daerah yang mendukung Odinga setelah hasilnya diumumkan.
 
Ratusan polisi dengan peralatan antihuru-hara dikerahkan di ibu kota Kenya, Nairobi, pada Jumat malam 11 Agustus 2017.
 
Dalam pidato kemenangannya, Kenyatta mengatakan bahwa tidak perlu melakukan kekerasan saat dirinya meminta warga Kenya berkumpul saat dia merayakan kemenangan untuk masa jabatan keduanya.
 
"Mari kita selalu ingat bahwa kita adalah saudara, tetangga Anda masih tetangga Anda, Marilah kita bersikap damai, saling bersentuhan, mari bersama-sama saling berbagi, tidak perlu kekerasan," kata Uhuru Kenyatta, seperti dikutip ITV, Sabtu 12 Agustus 2017.
 
Protes telah meledak dalam beberapa hari terakhir, dengan ketakutan mereka bisa membengkak karena amarah di antara mereka yang tidak menerima hasil pemungutan suara. Beberapa tokoh oposisi mengecam pemilihan tersebut sebagai "permainan".


Kerusuhan yang terjadi di Kenya (Foto: AFP).
 
Tokoh oposisi terkemuka Odinga, yang menentang Kenyatta buat Presiden, sudah menebar kebencian dan ketidakpercayaan dengan klaim bahwa mesin pemungutan suara telah diretas dan surat suara dimanipulasi.
 
Lebih dari 1.000 orang tewas dalam kekerasan yang didorong oleh ketegangan etnis usai Odinga kalah dalam pemilu pada 2007.
 
Odinga juga kalah dalam pemilu 2013 dari  Kenyatta. Dia mengambil klaim kecurangan suara ke Mahkamah Agung, yang menolak kasusnya. Pejabat oposisi Kenya, James Orengo, mengatakan bahwa kembali ke pengadilan adalah "bukan alternatif", kalau Odinga tidak terpilih.
 
Duta Besar AS untuk Kenya Robert F. Godec telah mendesak warga agar tidak mengganggu pekerjaan pejabat pemilu beberapa jam sebelum hasilnya diumumkan.
 
"Kekerasan tidak boleh menjadi pilihan," tambahnya.
 
"Tidak ada orang Kenya yang harus mati karena pemilu. Masa depan Kenya lebih penting daripada pemilihan apapun. Pemimpin di atas semua perlu memastikannya," pungkasnya.

(FJR)